Zahran, Dalang Utama Bom Paskah di Sri Lanka Misterius Keberadaannya

Colombo – Zahran yang diyakini menjadi dalang utama di balik rentetan bom saat perayaan Paskah di Sri Lanka, tidak diketahui nasib dan keberadaannya saat ini. Otoritas Sri Lanka belum bisa memastikan apakah Zahran ikut meledakkan diri pada Minggu (21/4) waktu setempat.

Seperti dilansir AFP, Kamis (25/4/2019), sosok Zahran yang juga dikenal sebagai Mohamed Zahran alias Zahran Hashim alias Zahran Moulavi ini disebut sebagai pemimpin militan lokal Jamaah Tauhid Nasional (NTJ). Sosoknya tidak terlalu banyak dikenal oleh publik Sri Lanka, selain menjadi ulama yang fasih berbahasa Tamil.

Pemerintah Sri Lanka telah secara tidak langsung menuduh Zahran terlibat, dengan menyebut NTJ diyakini ada di balik rentetan bom saat perayaan Paskah. Zahran telah diidentifikasi oleh kepolisian Sri Lanka sebagai pemimpin NTJ, meskipun namanya salah disebut sebagai Zahran Hashmi.


NTJ diyakini mendapatkan bantuan dari jaringan internasional dalam melancarkan aksi kejinya pada Minggu (21/4) lalu. Kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah mengklaim bertanggung jawab atas rentetan ledakan itu dalam pernyataan via sayap medianya, Amaq, pada Selasa (23/4) kemarin.
Video yang dirilis ISIS juga melalui Amaq, menjadi bukti konkret pertama yang menunjukkan Zahran sebagai pemain sentral dalam serangan bom di Sri Lanka. Dalam video itu, Zahran menjadi satu-satunya sosok yang tak menutup wajahnya di antara delapan orang yang menyatakan sumpah setia pada pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. Zahran yang berpakaian serba hitam tampak menenteng sebuah senapan dalam video itu.

Zahran yang disebut memiliki pengikut kurang dari 200 orang ini, disebut mulai memposting video-video ekstremis via akun Facebook-nya sejak tahun 2016. Dia juga banyak memposting ceramah bernada menghasut via media sosial lainnya juga YouTube. Video-video yang diposting Zahran itu — yang kini telah dihapus — menyerukan tindak kekerasan terhadap warga non-muslim.

Wakil Presiden Dewan Muslim Sri Lanka, Hilmy Ahamed, menyatakan dirinya sudah melaporkan Zahran pada otoritas Sri Lanka sejak tiga tahun lalu. “Orang ini merupakan penyendiri dan dia telah meradikalisasi anak-anak muda dengan dalih mengajar kelas baca Alquran. Tapi tidak ada satupun orang yang mengira orang-orang ini mampu melakukan serangan separah itu,” sebut Ahamed kepada AFP.

Menurut Ahamed, Zahran berusia sekitar 40 tahun dan berasal dari wilayah Batticaloa, yang ada di pantai timur Sri Lanka. Dari tiga gereja dan empat hotel yang menjadi sasaran serangan bom, salah satunya diketahui merupakan Gereja Zion di Batticaloa yang ada di luar wilayah Colombo.

“Zahran berasal dari keluarga muslim kelas menengah. Dia keluar dari sekolah (drop-out),” ungkap Ahamed, sembari menyebut bahwa Zahran mengenyam pendidikan di sebuah kampus muslim di Kattankudy, yang banyak dihuni warga muslim Sri Lanka.

Ahamed menyebut bahwa Zahran dianggap sebagai ancaman oleh komunitas muslim lokal dan pernah memicu masalah di masjid setempat. Diungkapkan Ahamed bahwa Zahran terlibat konflik dengan jemaah masjid lainnya hingga suatu ketika pernah ‘mengeluarkan pedang untuk membunuh’ jemaah masjid tersebut.

Laporan media-media lokal menyebut Zahran mendirikan NTj di Kattankudy tahun 2014 lalu. Hingga kini masih ada kebingungan di kalangan otoritas Sri Lanka soal apakah NTJ sendiri atau kelompok pecahannya yang melakukan rentetan serangan bom saat perayaan Paskah.

“Ada kelompok yang memisahkan diri dari badan utamanya (NTJ-red),” sebut Wakil Menteri Pertahanan Junior, Ruwan Wijewardene, dalam pernyataan terbarunya. “Kami meyakini bahwa pemimpin kelompok ini juga melakukan aksi bunuh diri dalam salah satu serangan,” imbuh Wijewardene, sembari menolak untuk mengonfirmasi apakah dirinya merujuk pada Zahran atau orang lain.

Otoritas Sri Lanka saat ini masih menyelidiki hingga sejauh apa ISIS membantu para pengebom bunuh diri tersebut. Ahamed menambahkan bahwa sosok Zahran sebenarnya cukup dikenal memiliki keterkaitan dengan jaringan internasional.

“Seluruh video-videonya (Zahran-red) diunggah dari India. Dia menggunakan kapal-kapal penyelundup untuk bepergian bolak-balik dari India bagian selatan. Saya tidak tahu apakah dia telah mati atau masih hidup,” ujar Ahamed dalam pernyataannya.

Kepolisian Sri Lanka juga tampaknya tidak tahu keberadaannya saat ini. Bahkan kepolisian sangat ingin mengetahui apakah Zahran ada di antara sembilan pengebom bunuh diri yang beraksi pada Minggu (21/4) waktu setempat. Dengan melakukan tes DNA terhadap jasad para pengebom, otoritas Sri Lanka menyatakan telah mengidentifikasi delapan dari total sembilan pengebom yang salah satunya seorang wanita.

“Kekhawatiran terbesar adalah Zahran. Siapa saja yang bisa membantu kami melacaknya akan membantu banyak orang,” ucap seorang pejabat kepolisian Sri Lanka yang memahami penyelidikan namun enggan disebut namanya. “Kami belum berhasil mengetahui keberadaannya (Zahran-red),” tandasnya.

(nvc/hri)