Wanita Penghibur yang Mengklaim Tahu Rahasia Trump Akui ‘Dibungkam’ Rusia

Moskow – Wanita penghibur asal Belarusia, Anastasia Vashukevich, yang mengklaim punya bukti soal upaya Rusia mencampuri pemilu Amerika Serikat (AS), kini mengklaim diperintahkan otoritas Rusia untuk bungkam. Hal ini diungkapkan Vashukevich setelah dia dibebaskan dari tahanan polisi Rusia pekan lalu.

Seperti dilansir CNN, Rabu (30/1/2019), Vashukevich mengungkapkan hal itu dalam wawancara eksklusif dengan CNN pada Selasa (29/1) waktu setempat.

Kepada CNN, Vashukevih mengakui dirinya diperintahkan oleh Dinas Keamanan Rusia untuk tidak bicara soal miliarder Rusia, Oleg Deripaska, yang pernah menjadi rekan bisnis Paul Manafort, mantan ketua kampanye Presiden AS Donald Trump.

“Saya melakukan sejumlah pembicaraan saat saya ada di dalam penjara Rusia,” ucap Vashukevich dalam wawancara itu. “Dan mereka menjelaskan kepada saya dengan sangat jelas soal apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya katakan dan apa yang tidak seharusnya saya katakan,” ungkapnya.
Saat ditanya lebih lanjut siapa yang menjelaskan hal tersebut kepadanya, Vashukevich menjawab: “Agen-agen Rusia.”

“Mereka mengatakan kepada saya, ‘Jangan sentuh Oleg Deripaska lagi’,” imbuh Vashukevich.

Wanita yang juga dikenal sebagai model dan memiliki nama lain Nastya Rybka di media sosial ini, sempat ditahan polisi Rusia sesaat setelah dia mendarat di Bandara Sheremetyevo, Moskow, awal bulan ini. Dia ditahan atas tuduhan melakukan perekrutan untuk prostitusi.

Vashukevich dibebaskan dari tahanan pekan lalu. Tidak diketahui pasti apakah kasus yang menjeratnya di Rusia akan dilanjutkan atau tidak. Namun diketahui bahwa melakukan perekrutan untuk prostitusi merupakan sebuah tindak pidana dengan ancaman maksimum 6 tahun penjara di Rusia.

Sebelum diterbangkan ke Rusia, Vashukevich terlebih dulu ditahan otoritas Thailand. Dia bersama sejumlah orang lainnya, termasuk Alex Kirillov yang mengklaim diri sebagai guru seks, ditangkap di Thailand saat menggelar ‘seminar seks’. Usai beberapa bulan ditahan dan disidangkan di Thailand, mereka dideportasi pada pertengahan bulan ini.

Namun diketahui bahwa saat ditahan di Thailand, Vashukevich pernah mengklaim punya bukti berupa rekaman audio berdurasi beberapa jam, yang diklaim bisa memberi titik terang soal dugaan keterkaitan para pejabat Rusia dengan terpilihnya Trump dalam pilpres AS tahun 2016.

Rekaman audio itu disebut berisi percakapan yang menunjukkan intervensi Rusia dalam pilpres AS, melalui seorang miliarder Rusia bernama Oleg Deripaska. Vashukevich mengaku pernah melihat langsung pertemuan antara Deripaska dengan tiga warga AS, saat dirinya menjadi wanita simpanan Deripaska. Klaim ini telah dibantah oleh pihak Deripaska.

Diketahui bahwa Deripaska menjadi salah satu subjek intrik politik di AS karena kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ditambah Deripaska merupakan bekas rekan bisnis Manafort, mantan ketua tim kampanye Trump yang kini terjerat berbagai kasus pidana.

Dalam wawancara terbaru dengan CNN, Vashukevich menyebut klaim yang disampaikannya tahun lalu hanyalah upaya menarik perhatian demi menyelamatkan nyawanya. Tidak diketahui pasti apakah klaim Vashukevich itu benar, namun yang jelas rekaman yang dimaksud belum pernah dirilis ke publik.

Saat ditanya apakah dirinya menyesal pernah melontarkan klaim semacam itu, Vashukevich menjawab: “Saya kira itu menyelamatkan nyawa saya, bagaimana bisa saya menyesalinya? Jika jurnalis tidak datang saat itu dan kisah itu tidak muncul di surat kabar, mungkin saya sudah mati sekarang.”

Diketahui juga bahwa saat disidang di Moskow sebelum dibebaskan, Vashukevich sempat meminta maaf kepada Deripaska karena menodai reputasinya.

(nvc/idh)