Video ISIS Ungkap Dalang Utama Rentetan Bom Paskah di Sri Lanka

Colombo – Sebuah video yang dirilis kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) disinyalir menunjukkan wajah dalang utama di balik rentetan bom Paskah di Sri Lanka. Mohammed Zahran, ulama lokal di Sri Lanka menjadi satu-satunya yang wajahnya tidak ditutup kafiyeh dalam video ISIS tersebut.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Kamis (25/4/2019), video yang dirilis ISIS itu menunjukkan delapan pria berpakaian serba hitam yang tampak sedang menyatakan sumpah setia mereka untuk pemimpin ISIS, Abu Bakr Al-Baghdadi. Tidak diketahui pasti kapan dan di mana video itu direkam.

“Kami menyatakan sumpah setia … dan untuk mematuhinya dalam segala hal, baik saat situasi mudah ataupun sulit,” ucap delapan pria dalam video yang dirilis oleh sayap media ISIS, AMAQ, pada Selasa (23/4) waktu setempat itu.


ISIS mengklaim pria-pria yang ada dalam video itu merupakan para pelaku rentetan bom bunuh diri saat perayaan Paskah pada Minggu (21/4) di Sri Lanka. Sejauh ini, otoritas Sri Lanka menyebut sedikitnya 359 orang tewas dalam tragedi tersebut.
Dalam video ISIS itu, sebagian besar menutup wajah dengan kafiyeh dan hanya satu pria yang wajahnya terlihat jelas. Dia adalah Mohamed Zahran alias Zahran Hashim alias Zahran Moulavi. Zahran tampak menenteng senapan dalam video tersebut.

Para pejabat intelijen Sri Lanka dan Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe meyakini bahwa Zahran merupakan dalang utama di balik bom Paskah tersebut. Zahran selama ini dikenal sebagai seorang ulama yang fasih bahasa Tamil dan berasal dari wilayah Sri Lanka sebelah timur.

Menurut para pemimpin muslim di Sri Lanka dan laporan intelijen setempat tanggal 11 April lalu, Zahran sangat dikenal atas pandangan militannya. Zahran juga diyakini merupakan pemimpin militan lokal bernama National Thowheeth Jama’ath atau Jamaah Tauhid Nasional (NTJ) yang oleh Sri Lanka, disebut bertanggung jawab atas rentetan bom Paskah.

Tiga pemimpin komunitas muslim terkemuka di Sri Lanka menuturkan kepada Reuters bahwa mereka telah menggelar rapat beberapa kali dengan jajaran pejabat pertahanan dan intelijen Sri Lanka dalam kurun waktu 3 tahun terakhir untuk memperingatkan soal paham radikal yang dianut Zahran.

Zahran diketahui kerap memposting konten-konten yang memuat pesan suportif untuk ISIS. Para pemimpin komunitas muslim Sri Lanka itu menyebut Zahran yang memiliki pengikut kurang dari 200 orang ini, mulai memposting video-video berbau ekstremis via akun Facebook-nya sejak tahun 2016.

Video-video Zahran itu menyerukan tindak kekerasan terhadap warga non-muslim. Video-video yang diposting dengan akun Facebook bernama Zahran Moulavi itu diketahui telah dihapus seluruhnya. Namun salah satu video Zahran ditunjukkan kepada Reuters oleh R Abdul Razziq selaku Sekjen kelompok Islamis, Jamaah Tauhid Ceylon. Dalam video itu, Zahran terlihat mengancam untuk menyerang warga sipil dengan kendaraan yang dipasangi peledak.

“Menghadapi kekuatan mujahidin, tentara kalian, polisi dan intelijen, semuanya akan gagal,” ucap Zahran dalam video itu. Reuters tidak bisa memverifikasi video tersebut secara independen.

Tiga komunitas muslim terkemuka — Jamaah Tauhid Ceylon, All Ceylon Jamiyyathul Ulama (ACJU) dan Dewan Muslim Sri Lanka — menyatakan pihaknya terus memperingatkan otoritas Sri Lanka soal Zahran. Peringatan terakhir diberikan tahun 2016 dan Desember 2018 setelah Zahran diyakini terlibat aksi pengrusakan patung-patung Buddha di Sri Lanka.

“Ada seorang muslim yang menyebarkan kebencian, tangkap dia. Dia mungkin berakhir membahayakan Sri Lanka,” tutur Wakil Presiden Dewan Muslim Sri Lanka, Hilmu Ahamed, kepada otoritas Sri Lanka.

Pemerintah Sri Lanka, pada Rabu (24/4) waktu setempat, menyatakan ada sembilan pengebom bunuh diri, dengan salah satunya wanita, yang melakukan serangan bom saat perayaan Paskah. Baru delapan pengebom bunuh diri yang telah diidentifikasi. “Kebanyakan pengebom berpendidikan, berasal dari keluarga dengan perekonomian kuat. Beberapa dari mereka bersekolah di luar negeri,” sebut Wakil Menteri Pertahanan junior, Ruwan Wijewardene.

(nvc/hri)