Usai Kematian Aktor Singapura, Militer Kaji Kurangi Durasi Latihan

Usai Kematian Aktor Singapura, Militer Kaji Kurangi Durasi LatihanAloysius Pang (Instagram/@aloypang)

Singapura – Militer Singapura akan mengurangi durasi pelatihan usai tewasnya aktor Aloysius Pang dalam pelatihan militer di Selandia Baru dalam rangka wajib militer. Pengurangan ini bertujuan memberi kesempatan bagi para komandan dan tentaranya untuk mengkaji sistem serta proses demi memfokuskan pada keselamatan.

Seperti dilansir media Singapura, The Straits Times, Jumat (25/1/2019), Komandan Pasukan Pertahanan Singapura, Letnan Jenderal Melvyn Ong, mengungkapkan hal ini dalam konferensi pers pada Kamis (24/1) kemarin. Pengurangan durasi pelatihan merupakan bagian dari langkah-langkah yang diambil setelah kematian Pang.

Letnan Jenderal Ong mengatakan bahwa dirinya telah meminta seluruh divisi militer untuk mengkaji durasi pelatihan masing-masing. Dengan pengurangan durasi pelatihan, diharapkan setiap divisi militer bisa lebih fokus pada keselamatan seluruh personel, termasuk tentara nasional full-time atau NSF dan tentara nasional siap operasional (NSmen).

“Apa maksudnya ini? Ini akan berwujud langkah memperpendek durasi, intensitas, frekuensi pelatihan yang sudah ada, mengurangi beberapa hal, untuk melakukan pelatihan lebih baik dengan langkah yang lebih berkelanjutan, untuk fokus pada keselamatan. Jadi semua divisi akan mengkaji ini, memperpendek waktu pelatihan mereka dalam beberapa pekan ke depan,” tegas Letnan Jenderal Ong dalam pernyataannya.

“Pengurangan waktu pelatihan dengan menindaklanjuti timeout untuk keselamatan akan diberlakukan selama mungkin hingga kita bisa memperbaikinya. Dan kita ingin melakukannya dengan benar, kita ingin melakukannya dengan aman untuk setiap aktivitas, kita ingin melakukannya dengan benar setiap waktu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Letnan Jenderal Ong memastikan bahwa pengurangan durasi pelatihan tidak akan mempengaruhi kesiapan operasional Angkatan Bersenjata Singapura (SAF), karena tidak melibatkan para tentara yang terlibat langsung dalam operasi dan pengerahan.

Dalam insiden yang terjadi di Selandia Baru pada 19 Januari lalu, Pang yang berusia 28 tahun bertugas sebagai teknisi persenjataan pada Batalion Artileri Singapura ke-268 dan sedang ikut pelatihan tahunan militer Singapura bernama ‘Exercise Thunder Warrior‘ di Waiouru Training Area.

Saat insiden terjadi, Pang ditugaskan memperbaiki sebuah gun barrel yang rusak pada sebuah tank bernama Singapore Self-Propelled Howitzer (SSPH). Pang bertugas bersama seorang teknisi lainnya dan seorang komandan detasemen persenjataan. Dia berada di kabin artileri howitzer, saat bagian gun barrel diturunkan ke posisi standby.

Dalam posisi tersebut, seharusnya mereka segera menghindar karena ruang gerak kabin terlalu sempit. Pang tidak berhasil menghindar dan tubuhnya terjepit antara bagian ujung gun barrel dan kabin tank militer. Pihak SAF tidak menyebut apakah ada pelanggaran prosedur keamanan dalam insiden Pang tersebut. SAF masih menyelidiki insiden ini secara menyeluruh.

(nvc/ita)