Trump Salahkan DPR AS dan Eks Pengacaranya Atas Kegagalan KTT Hanoi

Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut keputusan Partai Demokrat untuk menanyai mantan pengacaranya, Michael Cohen, pada hari yang sama dengan pertemuan Trump dengan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un di Vietnam, mungkin berkontribusi pada kegagalan tercapainya kesepakatan dengan Kim.

Diketahui bahwa Komisi Pengawasan pada House of Representatives (HOR) atau DPR AS yang kini didominasi Partai Demokrat, menanyai Cohen pada Kamis (28/2) lalu di Washington DC. Pada hari yang sama, Trump dan Kim Jong-Un menggelar pertemuan puncak atau KTT kedua di Hanoi, Vietnam.

“Untuk Demokrat yang menanyai seorang pembohong dan penipu yang bersalah dalam audiensi terbuka, pada waktu yang sama saat digelarnya Pertemuan Nuklir yang sangat penting dengan Korea Utara, mungkin menjadi keburukan terbaru dalam politik Amerika dan mungkin telah berkontribusi terhadap ‘walk’,” sebut Trump via akun Twitter pribadinya, merujuk pada keputusannya ‘berjalan menjauh’ dari hal yang disebutnya sebagai ‘kesepakatan buruk’ dengan Kim Jong-Un.


“Jangan pernah dilakukan saat seorang presiden sedang di luar negeri. Memalukan!” imbuh Trump seperti dilansir Reuters, Senin (4/3/2019).

Pertemuan kedua antara Trump dan Kim Jong-Un di Hanoi diharapkan mampu menjadi forum untuk merundingkan kesepakatan denuklirisasi. Namun faktanya pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan apapun, bahkan tanpa pernyataan bersama seperti yang terjadi pada pertemuan pertama di Singapura pada Juni 2018.

Trump menyebut Korut menuntut agar seluruh sanksi ekonomi dicabut sebagai ‘imbalan’ atas penyerahan senjata nuklir Korut.

Dalam audiensi secara terbuka di Washington DC, Cohen mengakui dirinya sebagai ‘fixer‘ atau tukang suap yang mewakili Trump selama bertahun-tahun. Di hadapan Komisi Pengawasan DPR AS, Cohen menyebut Trump memerintahkan dirinya untuk mengancam orang lain setidaknya sebanyak 500 kali dalam 10 tahun terakhir.

Saat ditanya soal pengakuan Cohen di hadapan DPR AS ketika dia masih di Hanoi, Trump menyebut tuduhan-tuduhan itu ‘tidak benar’ dan mengkritik keputusan DPR AS menggelar audiensi saat dirinya sedang di luar negeri.

“Saya berusaha untuk menontonnya sebanyak mungkin yang saya bisa. Saya tidak bisa menontonnya terlalu banyak karena saya sedikit sibuk, tapi saya pikir melakukan audiensi palsu seperti itu dan melakukannya di saat pertemuan sangat penting seperti ini, merupakan hal yang sangat buruk,” kecam Trump saat itu.

(nvc/ita)