Trump Naik Pitam Saat Ditanya Apakah Dirinya Pernah Jadi Agen Rusia

Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump naik pitam saat ditanya apakah dirinya pernah menjadi agen Rusia. Pertanyaan itu muncul setelah media-media AS melaporkan FBI sedang menyelidiki Trump atas dugaan menjadi agen Rusia setelah menjabat Presiden AS.

Seperti dilansir AFP, Selasa (15/1/2019), Trump menyampaikan deklarasi ‘menakjubkan’ itu kepada kerumunan wartawan di halaman Gedung Putih pada Senin (14/1) waktu setempat.

“Saya tidak pernah bekerja untuk Rusia,” tegas Trump kepada wartawan di South Lawn Gedung Putih. Penegasan ini disampaikan Trump sebelum dirinya menaiki helikopter Marine One untuk melakukan kunjungan kerja ke New Orleans.

“Sungguh memalukan kalian bahkan menanyakan pertanyaan itu. Itu semua hoax besar,” imbuhnya.
Pernyataan Trump yang bernada kemarahan itu bertujuan meredakan kontroversi atas dugaan keterlibatan Trump dengan Kremlin atau Istana Kepresidenan Rusia. Fakta bahwa Trump sampai harus melontarkan penyangkalan di depan publik menunjukkan seberapa jauh skandal intervensi Rusia telah berjalan.

Bantahan yang disampaikan Trump itu menindaklanjuti dua laporan media ternama AS, New York Times (NYT) dan The Washington Post.

Diketahui bahwa NYT dalam laporannya menyebut Biro Investigasi Federal (FBI) telah meluncurkan penyelidikan soal apakah Trump bertindak mewakili Rusia setelah dirinya menjabat Presiden AS. Sedangkan The Washington Post merinci hal yang disebut sebagai langkah tak biasa yang diambil Trump dalam menyembunyikan isi percakapan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dua laporan itu mencuat saat penyelidikan yang dipimpin jaksa khusus Robert Mueller terhadap dugaan intervensi Rusia dalam pilpres AS tahun 2016 terus berlanjut. Penyelidikan itu juga memeriksa dugaan kolusi antara tim kampanye Trump dengan Rusia untuk memenangkan Trump. Laporan-laporan yang disampaikan NYT dan The Washington Post dinilai sangat konkret, berbeda dengan bocoran penyelidikan Mueller yang terkadang rumit dan penuh kehati-hatian.

Dalam laporannya, The Washington Post menyebut Trump secara pribadi mengambil tindakan untuk mencegah catatan yang diambil oleh penerjemahnya saat pertemuan empat mata dengan Putin, dibagikan kepada para stafnya. Trump dilaporkan mengambil catatan si penerjemah dan memerintahkan penerjemah itu untuk tidak membocorkan konten pembicaraan dengan Putin.

Laporan NYT menyebut bahwa FBI memutuskan melakukan penyelidikan setelah Trump memecat Direktur FBI James Comey tahun 2017 lalu.

Transkrip testimoni FBI dalam rapat tertutup dengan Kongres AS beberapa waktu lalu, yang didapatkan CNN, menunjukkan bahwa mantan ketua tim pengacara FBI, James Baker, menyatakan FBI ingin mengetahui apakah Trump pernah ‘bertindak atas perintah (Kremlin-red) dan bagaimanapun mengikuti arahan, bagaimanapun melaksanakan kehendak mereka’.

“Itu satu keekstreman. Keekstreman lainnya adalah Presiden sama sekali tidak bersalah dan kami juga membahas itu,” ujar Baker dalam transkrip tersebut.

Trump juga memberikan reaksi keras saat ditanya hal yang sama pada Sabtu (12/1) lalu usai diwawancarai Fox News. Namun pada momen itu, Trump tidak menyampaikan bantahan tegas seperti pada Senin (14/1) ini. Trump menyebut pertanyaan itu sebagai ‘hal paling menghina yang pernah ditanyakan’.

(nvc/ita)