Trump dan Trudeau Sepakat Tekan China Agar Bebaskan 2 Warga Kanada

Ottawa – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau sepakat terus menekan China terkait penahanan warga negara Kanada. Trump dan Trudeau menyerukan agar China segera membebaskan dua warga Kanada yang ditahan usai penangkapan petinggi Huawei di Vancouver.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (8/1/2019), otoritas Kanada menginginkan agar dua warganya, yakni Michael Kovrig dan Michael Spavor, segera dibebaskan.

Kedua warga Kanada itu ditahan setelah penangkapan Meng Wanzhou, Chief Financial Officer (CFO) perusahaan telekomunikasi China, Huawei Technologies Co Ltd, di Vancouver pada 1 Desember 2018. Penangkapan itu dilakukan oleh otoritas Kanada, atas permintaan otoritas AS.


Meng ditangkap atas dugaan pidana terkait pelanggaran sanksi Iran yang diberlakukan AS. Jaksa AS menuduh Meng menyesatkan sejumlah bank soal transaksi terkait Iran, sehingga menempatkan bank-bank itu pada risiko melanggar sanksi-sanksi AS.
Otoritas China mengecam keras penangkapan itu. Hal ini juga berpotensi meningkatakan ketegangan global saat AS dan China telah terlibat perang dagang.

Dalam pernyataan terbaru, kantor PM Kanada menyebut Trudeau berbicara dengan Trump pada Senin (7/1) waktu setempat. Dalam pembicaraan itu, Trudeau berterima kasih kepada Trump ‘atas pernyataan dukungan yang kuat dari Amerika Serikat’ dalam menanggapi penahanan dua warga Kanada di China.

“Kedua pemimpin sepakat melanjutkan upaya pembebasan mereka,” demikian pernyataan kantor PM Kanada.

Dalam pernyataan terpisah, Gedung Putih hanya menyebut Trump dan Trudeau ‘membahas penahanan tidak sah terhadap dua warga Kanada di China’.

Meskipun Kanada menyebut otoritas China tidak mengungkapkan keterkaitan spesifik antara penahanan dua warganya dengan penangkapan Meng, para pengamat dan mantan diplomat meyakini penahanan dua warga Kanada merupakan aksi balasan atas penangkapan Meng yang terancam diekstradisi ke AS.

Otoritas China bersikeras agar dakwaan terhadap Meng digugurkan, namun Kanada menyatakan pihaknya tidak bisa mencampuri proses hukum AS.

Surat kabar nasional China Daily, merilis editorial yang isinya menyebut Kanada ‘bisa kehilangan kepercayaan dan kerjasama dari kebanyakan negara berkembang’ terkait isu ini. “Dengan terus mengikuti AS, baik pasif maupun aktif, Kanada pada akhirnya akan membahayakan kepentingan nasionalnya,” sebut editorial yang ditulis oleh seorang profesor pada kajian internasional di Renmin University, Li Qingsi.

(nvc/dhn)