Terbangkan Drone di Atas Parlemen Myanmar, Turis Prancis Ditangkap

Naypyitaw – Seorang turis Prancis ditangkap karena menerbangkan drone di dekat gedung parlemen Myanmar yang ada di ibu kota Naypyitaw. Akibat perbuatannya ini, turis Prancis ini terancam hukuman tiga tahun penjara.

Seperti dilansir AFP, Senin (11/2/2019), turis bernama Arthur Desclaux (27) itu berupaya menerbangkan sebuah drone atau pesawat tanpa awak di atas sebuah gedung pemerintahan, yang merupakan tindakan melanggar hukum di Myanmar.

Media-media lokal merilis foto turis Prancis yang ditahan itu, juga foto detail paspor dan drone miliknya. Kedutaan Besar Prancis di Myanmar telah mengonfirmasi penangkapan ini.

“Dia ditangkap sore hari pada Kamis, 7 Februari lalu karena menerbangkan sebuah drone di atas parlemen,” demikian pernyataan Kedubes Prancis di Myanmar.

Disebutkan Kedubes Prancis bahwa Desclaux kini berada dalam tahanan polisi di Naypyitaw. Kedubes Prancis menambahkan bahwa keluarga Desclaux telah diberi tahu soal penahanan ini dan staf kedutaan tengah mengupayakan pembebasannya.

Dalam pernyataan terpisah, pejabat kepolisian setempat, Min Tin, menuturkan kepada AFP bahwa Desclaux didakwa pasal 8 Undang-undang Ekspor dan Impor. Atas dakwaan itu, sebut Min Tin, Desclaux terancam hukuman maksimum tiga tahun penjara jika dinyatakan bersalah.

Hingga kini belum diketahui pasti mengapa Desclaux menerbangkan drone di dekat gedung pemerintahan.

Tahun 2017 lalu, tiga wartawan bersama sopir mereka dijebloskan ke penjara Myanmar atas pelanggaran hukum yang sama. Wartawan Singapura, Lau Hon Meng, bersama wartawan Malaysia, Mok Choy Lin, bersama wartawan Myanmar, Aung Naing Soe dan sopir Hla Tin ditahan saat sedang membuat dokumenter untuk televisi Turki, TRT, pada Oktober 2017. Ketiganya mengaku bersalah telah menerbangkan drone di atas gedung parlemen dan divonis dua bulan penjara.

(nvc/bag)