Ribuan Warga Hong Kong Kembali Demo RUU Ekstradisi, Kantor Pemerintah Libur

Hong Kong – Ribuan demonstran yang memprotes Rancangan Undang-undang (RUU) ekstradisi di Hong Kong kembali berkumpul pada Kamis (13/6) waktu setempat. Otoritas Hong Kong pun menutup kantor-kantor pemerintahannya sebagai antisipasi menindaklanjuti potensi pecahnya bentrokan terbaru.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (13/6/2019), sejumlah demonstran berkumpul di sekitar gedung parlemen Hong Kong, yang menjadi lokasi bentrok pada Rabu (12/6) kemarin. Anak-anak sekolah ikut bergabung dengan kerumunan demonstran pada hari ini.

Dilaporkan bahwa kerumunan yang berawal dari hanya 20 demonstran pada Kamis (13/6) pagi menjadi ribuan orang pada siang hari.


Para personel polisi antihuru-hara lengkap dengan helm dan tameng pelindung juga telah bersiaga di ruas-ruas jalanan yang menjadi tempat berkumpulnya para demonstran. Jejeran van kepolisian diparkir tak jauh dari lokasi. Beberapa polisi lainnya terlihat memeriksa identitas orang-orang yang hendak menggunakan komuter.

Otoritas Hong Kong menutup kantor-kantor pemerintahan yang ada di distrik finansial kota tersebut hingga akhir pekan nanti. Keputusan ini diambil setelah bentrokan pecah dalam aksi protes yang diikuti puluhan ribu orang pada Rabu (12/6) waktu setempat.

Dalam bentrokan itu, polisi melepaskan tembakan gas air mata dan peluru karet serta menggunakan semprotan merica untuk membubarkan para demonstran. Otoritas rumah sakit Hong Kong menyebut sedikitnya 72 orang dilarikan ke rumah sakit hingga Rabu (12/6) malam waktu setempat.

RUU ekstradisi yang akan berlaku untuk seluruh warga Hong Kong, warga negara asing dan warga China yang tinggal atau bepergian ke Hong Kong, itu dikhawatirkan akan melemahkan penegakan hukum di Hong Kong. Diketahui bahwa RUU ekstradisi itu akan mengizinkan ekstradisi ke setiap yurisdiksi yang sebelumnya tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Hong Kong, termasuk China daratan.

Aksi memprotes RUU itu digelar sejak Minggu (9/6) lalu, yang saat itu diklaim diikuti oleh lebih dari 1 juta orang, yang tercatat sebagai unjuk rasa jalanan terbesar sejak penyerahan Hong Kong ke China oleh Inggris tahun 1997 lalu.

Pada Rabu (12/6) malam waktu setempat, ribuan demonstran tetap bertahan di dekat gedung parlemen atau Dewan Legislatif Hong Kong di distrik Admiralty. Ribuan demonstran lainnya mundur ke distrik bisnis Central. Salah satu demonstran, Ken Lam, menyatakan akan tetap berunjuk rasa hingga RUU ekstradisi dicabut.

“Saya tidak tahu apa rencana para demonstran hari ini, kami akan mengikuti saja, tapi kami pikir jumlahnya akan lebih kecil dari kemarin dan akan berlangsung damai, setelah apa yang terjadi kemarin,” ucapnya.

Pada Kamis (13/6) pagi waktu setempat, sebagian besar ruas jalanan di distrik bisnis Hong Kong telah dibuka kembali. Namun Pacific Place, pusat perbelanjaan mewah yang terletak tepat di sebelah gedung Dewan Legislatif, masih ditutup setelah sempat menjadi pengungsi para demonstran saat bentrokan pecah kemarin.

Sejumlah bank ternama seperti Standard Chartered, Bank of China dan DBS memutuskan meliburkan kantor-kantor cabang yang ada di dekat lokasi unjuk rasa hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengecam bentrokan pada Rabu (12/6) dan memerintahkan pemulihan ketertiban umum dengan segera. Diketahui bahwa Lam yang pro-China sebelumnya menegaskan tidak akan mencabut RUU ekstradisi itu. Dia menegaskan RUU itu diperlukan untuk menutup ‘celah-celah’ yang menjadikan Hong Kong sebagai tempat persembunyian para pelaku kriminal. Menurut Lam, pengadilan akan memberikan jaminan HAM dalam kasus ekstradisi ke China.

Namun rival politik Lam menyebut sistem peradilan China diwarnai praktik penyiksaan dan pengakuan paksa, serta penahanan sewenang-wenang dan akses yang buruk terhadap pengacara. Amnesty International bahkan menyebut RUU ekstradisi itu menjadi ancaman bagi HAM.

Tonton video Puluhan Ribu Massa Tumpah Ruah di Hong Kong:

[Gambas:Video 20detik]

(nvc/ita)