Ribuan Wanita Korut Diselundupkan dan Dijual Jadi Budak Seks di China

London – Ribuan wanita dan anak perempuan dari Korea Utara (Korut) dilaporkan diselundupkan dan dijual sebagai budak seks di China. Kebanyakan dari mereka bahkan dijual untuk dijadikan istri bagi pria-pria China.

Beberapa orang di antaranya dipaksa menjadi pekerja seks komersial (PSK) atau dipaksa melakukan aksi seksual dalam tayangan live stream. Seperti dilansir CNN, Selasa (21/5/2019), laporan mengejutkan itu didapat dari penyelidikan yang dilakukan oleh Korea Future Initiative (KFI) yang berkantor di London, Inggris.

Laporan KFI itu juga menyebut soal pengakuan langsung dari seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang diperkosa dan wanita-wanita dipaksa berpartisipasi dalam seks dunia maya selama berhari-hari tanpa makan.


Diketahui bahwa sejak lama para pembelot Korut, khususnya wanita, menjadi target sindikat penyelundup manusia. Persoalan ini semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir, karena apa yang disebut laporan KFI sebagai meningkatkan permintaan dari wilayah China.

Kementerian Luar Negeri China belum mengomentari laporan KFI ini.

Tidak ada jumlah resmi soal warga Korut yang membelot dan kini tinggal di Korea Selatan (Korsel). Namun menurut laporan PBB tahun 2014, kelompok-kelompok kemanusiaan melaporkan bahwa puluhan ribu warga Korut tinggal di wilayah China sebagai pengungsi. KFI mengklaim jumlahnya kini mungkin lebih tinggi hingga mencapai 200 ribu orang.

KFI — organisasi non-profit yang fokus pada wanita, anak dan kelompok minoritas Korut yang menjadi korban pelanggaran HAM — memperkirakan sekitar 60 persen pengungsi wanita asal Korut yang tinggal di China, diselundupkan ke dalam perdagangan seks.

“Pada suatu saat ketika modal signifikan global diinvestasikan di China dan, yang terbaru, modal politik digunakan pada Korea Utara, itu menjadi dakwaan memberatkan bahwa wanita dan anak perempuan Korea Utara dibiarkan mendekam dalam perdagangan seks,” sebut KFI dalam laporannya.

“Kecaman tidaklah cukup. Hanya tindakan nyata yang bisa membongkar perdagangan seks China, mengkonfrontasi rezim Korea Utara yang merendahkan wanita dan menyelamatkan budak-budak seks yang tersebar di rumah-rumah bordil, kota-kota terpencil dan sarang seks dunia maya di daratan utama China,” imbuh laporan itu.

CNN belum bisa memverifikasi secara independen laporan-laporan KFI ini.

Sebelumnya, laporan Human Rights Watch (HRW) setebal 98 halaman yang dirilis November 2018 mencapai kesimpulan serupa dengan laporan KFI. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) juga mengakui adanya laporan tindak kekerasan terhadap para pembelot wanita dari Korut dalam laporan HAM di Korut tahun 2018.

Laporan yang dirilis KFI ini membutuh waktu dua tahun untuk diselesaikan. KFI menyebut laporan ini disusun berdasarkan wawancara dengan lebih dari 45 penyintas dan para korban kekerasan seksual yang testimoninya secara bersama-sama menunjukkan ‘industri gelap yang kompleks dan saling berhubungan yang menghasilkan keuntungan besar dari wanita dan anak perempuan yang diperdagangkan’.

(nvc/ita)