Rencanakan Teror Bom Skala Besar, Eks Tentara AS Ditangkap

Rencanakan Teror Bom Skala Besar, Eks Tentara AS DitangkapMark Steven Domingo (Courtesy FBI/Handout via REUTERS)

Los Angeles – Seorang veteran tentara Amerika Serikat (AS) ditangkap karena kedapatan merencanakan serangan teror berskala besar di dekat Los Angeles. Serangan itu disebut sebagai aksi balas dendam untuk teror masjid di New Zealand (Selandia Baru), yang menewaskan 50 orang pada Maret lalu.

Seperti dilansir AFP, Selasa (30/4/2019), Mark Steven Domingo (26) yang memiliki pengalaman bertempur di Afghanistan dan seorang mualaf ini, ditangkap otoritas AS pada Jumat (26/4) lalu. Domingo diketahui pernah bertugas di Afghanistan antara September 2012 hingga Januari 2013 lalu.

Dia terancam dijerat dakwaan terkait terorisme karena berencana meledakkan sebuah bom rakitan (IED) di sebuah rally nasionalis kulit putih yang digelar akhir pekan lalu di Long Beach, yang berjarak satu jam perjalanan dari Los Angeles, California. Rencana Domingo itu disebut bertujuan memicu banyak korban jiwa.


Domingo ditangkap setelah menerima sebuah paket yang dikiranya berisi paket bom rakitan aktif, yang berisi paku. Paket tersebut diantarkan oleh seorang agen Biro Investigasi Federal (FBI) yang menyamar.
Menurut dokumen pengadilan, Domingo menyatakan dukungan, baik dalam postingan online maupun percakapan dengan seorang sumber FBI, untuk jihad kekerasan. Domingo juga disebut telah menyatakan keinginan untuk menjadi seorang martir dengan membalas serangan-serangan terhadap muslim.

Disebutkan otoritas setempat bahwa setelah mempertimbangkan berbagai opsi — termasuk menargetkan warga Yahudi, gereja dan personel kepolisian — Domingo memutuskan untuk meledakkan sebuah IED di acara rally di Long Beach yang berhasil digagalkan.

“Penyelidikan ini dengan sukses mengacaukan ancaman sangat nyata yang diberikan oleh seorang prajurit tempur terlatih, yang berulang kali menyatakan dia ingin memicu jumlah korban tewas maksimum,” sebut jaksa AS Nick Hanna dalam dokumen pengadilan tersebut.

Dalam salah satu pesan ke sebuah kelompok privat online pada awal Maret lalu, Domingo membahas soal penembakan brutal di Las Vegas yang menewaskan 58 orang tahun 2017 lalu. “Amerika perlu insiden Vegas lainnya… itu akan membuat mereka merasakan teror yang dengan senang hati akan mereka sebarkan ke seluruh dunia,” tulis Domingo dalam pesan online tersebut.

Dalam postingan lain, Domingo membahas soal teror dua masjid di Christchurch, New Zealand yang menewaskan 50 orang dan dilakukan oleh seorang pria Australia pemuja supremasi kulit putih. “Ada penembakan masjid di New Zealand. Harus ada pembalasan,” tulis Domingo saat itu.

Beberapa minggu setelah melakukan perencanaan dengan seorang informan FBI yang menyamar dan mempertimbangkan berbagai target, Domingo menetapkan rally di Long Beach sebagai target. Dia membeli ratusan paku berukuran 7,6 cm yang akan dimasukkan ke dalam bom rakitan.

Domingo ditangkap setelah seorang agen FBI menyerahkan paket yang dikiranya peledak dan keduanya bergerak ke taman Long Beach untuk mengintai lokasi serangan. “Saya sangat senang mengumumkan bahwa kita mencegah potensi serangan teroris,” sebut Asisten Direktur kantor FBI di Los Angeles, Paul Delacourt.

Dalam kasus ini, Domingo didakwa menyediakan dan berusaha menyediakan dukungan material untuk terorisme. Dia terancam hukuman maksimum 15 tahun penjara jika terbukti bersalah.

(nvc/hri)