Remaja Arab Saudi Kabur, Ayahnya ke Thailand dan Ingin Bertemu

Bangkok – Ayah dari remaja asal Arab Saudi yang kabur dari keluarganya dan berniat mencari suaka, telah tiba di Thailand. Sang ayah berharap untuk bisa bertemu putrinya yang mengklaim dia akan dibunuh oleh keluarganya jika dipulangkan paksa.

Remaja putri bernama Rahaf Mohammed al-Qunun (18) yang berasal dari Saudi menjadi pemberitaan internasional setelah mengklaim dirinya melarikan diri dari keluarganya di Kuwait dan berniat mencari suaka di Australia, sebelum memutuskan masuk ke Thailand.

Qunun juga menyebut dirinya sedang berupaya mencari status pengungsi dari negara manapun yang bisa melindunginya. “Negara manapun yang akan melindungi saya dari bahaya atau pembunuhan karena meninggalkan agama saya dan penyiksaan dari keluarga saya,” ujarnya via video yang diposting ke media sosial beberapa waktu lalu.


Setelah sempat mengunci diri di dalam kamar hotel bandara karena menolak dipulangkan, Qunun kini diperbolehkan tinggal sementara di Thailand. Diketahui juga bahwa Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UNHCR tengah menyelidiki kasus Qunun.
Seperti dilansir Reuters, Selasa (8/1/2019), Kepala Imigrasi Thailand, Surachate Hakpan, menegaskan bahwa ayah dan saudara laki-laki Qunun yang dikabarkan telah berada di Bangkok, harus menunggu dan melihat apakah UNHCR akan mengizinkan mereka menemui Qunun.

“Ayah dan saudara laki-lakinya (Qunun-red) ingin bertemu dan bicara dengan Rahaf tapi PBB perlu menyetujui pembicaraan semacam itu,” ucap Surachate kepada wartawan setempat.

Diketahui bahwa status pengungsi yang diajukan Qunun diproses oleh UNHCR, sehingga dia belum bisa mengajukan suaka ke negara lain. Saat ini dilaporkan staf UNHCR sedang mewawancarai Qunun terkait permohonan aplikasi status pengungsi itu.

“Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memproses kasus itu dan menentukan langkah selanjutnya,” ungkap perwakilan UNHCR di Thailand, Giuseppe de Vincentiis, dalam pernyataannya. “Kami sangat berterima kasih bahwa otoritas Thailand tidak memulangkannya secara paksa dan memberikan perlindungan terhadapnya,” imbuhnya.

Para aktivis mengkhawatirkan apa yang akan dilakukan otoritas Saudi setelah otoritas Thailand mencabut keputusan untuk memulangkan Qunun secara paksa dan mengizinkan remaja itu tinggal sementara di Thailand di bawah perlindungan UNHCR.

“Ayahnya sekarang ada di sini di Thailand dan itu menjadi sumber kekhawatiran,” sebut Wakil Direktur Human Rights Watch (HRW) Wilayah Asia, Phil Robertson, kepada Reuters.

“Kita tidak tahu apa yang akan dia (ayah Qunun-red) lakukan … apakah dia akan berusaha mencari tahu di mana putrinya dan mengganggunya. Kita tidak tahu apakah dia akan berusaha membuat pihak kedutaan untuk melakukannya,” imbuh Robertson.

Dalam pernyataan terpisah, pihak Kedutaan Saudi di Thailand membantah laporan yang menyebut pihaknya mengajukan ekstradisi Qunun. “Kerajaan Arab Saudi tidak meminta ekstradisinya (Qunun-red). Kedutaan mempertimbangkan isu ini sebagai masalah keluarga,” tegas Kedutaan Saudi via Twitter.

Sementara itu, para aktivis dan anggota parlemen di Australia dan Inggris dilaporkan mendorong pemerintahan mereka untuk memberikan suaka bagi Qunun.

(nvc/ita)