Putin Klaim Rusia Hentikan Aktivitas 600 Mata-mata Asing

Moskow – Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengklaim Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) telah menghentikan jaringan 600 mata-mata asing sepanjang tahun 2018. Ratusan mata-mata asing itu terdiri atas agen-agen intelijen juga para informan yang beroperasi dari wilayah Rusia.

Seperti dilansir AFP dan CNN, Kamis (7/3/2019), hal ini disampaikan Putin saat berpidato di hadapan FSB pada Rabu (6/3) waktu setempat. Diketahui Putin pernah memimpin FSB sebelum menjadi Presiden Rusia. Ditegaskan Putin bahwa saat ini badan-badan intelijen asing semakin meningkatkan aktivitas di wilayah Rusia.

“Badan-badan kontraintelijen bertindak efektif dan ofensif tahun lalu. Terima kasih untuk pelaksanaan operasi khusus yang sukses, aktivitas 129 mata-mata dan 456 informan telah dihentikan (tahun 2018),” sebut Putin.


“Badan-badan intelijen asing tengah berusaha meningkatkan aktivitas mereka di wilayah Rusia, mencari akses dengan semua cara untuk mendapat informasi politik, ekonomi, ilmiah dan teknologi,” imbuhnya.

“Seperti di masa sebelumnya, sekarang, mungkin, mereka juga berupaya mempengaruhi proses-proses (politik) terkait di negara kita. Oleh karena itu, kinerja (intelijen) harus efisien, khususnya terkait produksi sistem persenjataan Rusia,” tegas Putin.

Badan keamanan dan intelijen Rusia tergolong jarang menjadi pemberitaan global dalam beberapa tahun terakhir. Rusia sendiri dituduh mencampuri pemilu di beberapa negara dan dituduh memerintahkan upaya pembunuhan eks mata-mata Rusia, Sergei Skripal, dengan racun di Inggris.

Akhir tahun lalu, FSB menangkap seorang warga negara Amerika Serikat (AS) Paul Whelan, mantan Marinir AS, yang dicurigai terlibat spionase. Disebutkan otoritas Rusia bahwa Whelan kedapatan memiliki material rahasia saat dia ditangkap di Moskow. Penahanan Whelan ini diprotes otoritas AS.

(nvc/rna)