Profesor Hukum di Kampus Elite China Diselidiki karena Kritik Presiden Xi

Beijing – Seorang profesor hukum di universitas bergengsi di China dinonaktifkan dan diselidiki karena mengkritik Presiden Xi Jinping. Kritikan itu dituangkan sang profesor dalam sebuah esai yang isinya kritis terhadap Presiden Xi. Tulisan kritis semacam itu tergolong langka di China.

Seperti dilansir CNN, Rabu (27/3/2019), Profesor Xu Zhangrun dari Universitas Tsinghua, pekan lalu, diberitahu bahwa dirinya dicopot dari semua posisi mengajar hingga penyelidikan terhadapnya selesai dilakukan. Informasi ini diungkapkan oleh kolega dan sahabat Profesor Xu, Guo Yuhua, kepada CNN.

Universitas Tsinghua merupakan salah satu universitas terkemuka dan bergengsi di China. Sejak berdiri tahun 1911 silam, Universitas Tsinghua telah meluluskan sejumlah pemimpin China dalam sektor politik, bisnis, akademisi dan budaya.


Universitas ini merupakan anggota Liga C9, sebuah aliansi resmi sembilan universitas elite di daratan utama China. Universitas Nanjing dan Universitas Peking juga tergabung dalam Liga C9.

Selama ini, Universitas Tsinghua secara konsisten mendapat predikat sebagai salah satu sekolah terbaik dunia. Bahkan dalam World University Rankings yang baru saja dirilis majalah Times Higher Education, Universitas Tsinghua menempati posisi teratas untuk wilayah Asia dan peringkat ke-22 secara global.

Dituturkan Guo yang merupakan profesor sosiologi pada universitas yang sama, bahwa kinerja Profesor Xu sebagai seorang dosen, peneliti dan pendidik telah ditangguhkan. Guo menyatakan detail soal penonaktifan Profesor Xu masih tidak jelas, namun dia menyebut hal itu sebagian besar disebabkan sebuah esai yang dirilis Juli 2018.

Tulisan Profesor Xu yang diberi judul ‘Imminent Fears, Immediate Hopes‘ itu menantang arah pergerakan China di bawah Presiden Xi dan menyerukan pemberlakuan kembali batasan masa kepresidenan, yang telah secara kontroversial dihapus pemerintah China pada awal tahun 2018.

“Tiba-tiba, entah dari mana, kita memiliki seorang ‘pemimpin tertinggi’ tanpa pemeriksaan atas kekuasaannya; bagaimana bisa orang-orang tidak memiliki bayangan aneh dan ketakutan baru?” tulis Profesor Xu dalam tulisannya yang kritis itu.

Penyelidikan terhadap Profesor Xu menjadi contoh tindakan terbaru yang diambil pemerintah China dalam menekan opini dan suara berbeda yang dan bertentangan dengan kebijakan Partai Komunis China.

Awal pekan ini, saat bicara kepada New York Times (NYT) via pesan singkat, Profesor Xu mengaku tak tahu apa yang akan menimpa dirinya. Komentar ini disampaikan menanggapi tulisan Profesor Xu yang kritis terhadap Presiden Xi itu.

“Saya telah secara mental bersiap untuk hal ini sejak lama. Yang terburuk, saya bisa berakhir di penjara,” ucap Profesor Xu kepada NYT saat itu.

Guo menambahkan, tidak diketahui alasan pasti otoritas China baru mengambil tindakan pekan ini, meski mengetahui tulisan Profesor Xu dirilis sejak pertengahan tahun lalu. Ditegaskan Guo bahwa jika satu orang dilarang berbicara, maka itu menjadi masalah untuk semua orang.

“Untuk diri saya, saya bicara bukan karena saya berani, tapi karena saya takut. Dan saya khawatir hal ini mungkin terjadi pada orang lain,” ujarnya.

Belum ada tanggapan resmi dari Universitas Tsinghua terkait laporan ini.

(nvc/fdn)