Presiden Rwanda Pimpin Upacara Peringatan 25 Tahun Genosida

Jakarta – Presiden Rwanda Paul Kagame memimpin upacara peringatan peristiwa genosida terhadap 800 ribu orang Tutsi dan orang Hutu moderat di Rwanda. Kejadian kelam selama 3 bulan terjadi pada 25 tahun yang lalu.

Dilansir dari Reuters Minggu (7/4/2019), Upacara penghormatan kepada korban genosida ini dilakukan selama satu minggu. Kagame meletakkan karangan bunga di situs peringatan genosida Gisozi, tempat dimana lebih dari seperempat juta orang dimakamkan. Kegiatan itu dilakukan sebelum pemerintah memulai pidato sore dan lagu.

“Tidak ada cara untuk sepenuhnya memahami kesepian dan kemarahan para penyintas, namun berulang kali kami telah meminta mereka untuk membuat pengorbanan yang diperlukan untuk memberikan kehidupan baru bagi bangsa kita. Emosi harus dimasukkan ke dalam kotak,” kata Kagame.

Dalam upacara di Gisozi itu, artis populer Rwanda menyanyikan lagu-lagu seperti “Turabunamira twiyubaka,” yang berarti “menghormati mereka ketika kami membangun kembali”.

“Mengingat itu perlu karena hanya berkat melihat kembali pada apa yang terjadi (bahwa kita dapat) memastikan bahwa hal itu tidak pernah terjadi lagi,” kata salah satu penata rambut, Olive Muhorakeye.

Pada sore harinya, para pejabat akan bergabung dengan sekitar 2.000 orang dalam pawai peringatan dari parlemen ke stadion sepak bola nasional. Peserta pawai akan menyalakan lilin dalam acara nyala malam.

Setidaknya ada 10 kepala negara yang hadir serta Gubernur Jenderal Kanada Julie Payette dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker.

Pembantaian 100 hari itu dimulai pada tanggal 6 April 1994. Peristiwa itu setelah Presiden Juvenal Habyarimana dan mitranya Cyprien Ntaryamira dari Burundi–keduanya orang Hutus–terbunuh ketika pesawat mereka ditembak jatuh di atas ibukota Rwanda. Para penyerang tidak pernah diidentifikasi.

Di antara warisan genosida adalah Pengadilan Kriminal Internasional yang tumbuh dari pengadilan untuk menyelidiki dan menuntut mereka yang bertanggung jawab atas kekejaman yang dilakukan di Rwanda dan selama perang Balkan tahun 1990-an.
(ibh/nvl)