Peringatkan Iran, PM Netanyahu: Rudal Israel Bisa Melesat Sangat Jauh

Tel Aviv – Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan peringatan terbaru terhadap Iran. Ditegaskan Netanyahu bahwa rudal-rudal Israel bisa melesat ‘sangat jauh’ termasuk mengenai posisi-posisi Iran.

Seperti dilansir AFP, Rabu (13/2/2019), peringatan itu disampaikan PM Netanyahu saat mengunjungi pangkalan Angkatan Laut Israel di Pelabuhan Laifa pada Selasa (12/2) waktu setempat.

“Rudal-rudal yang Anda lihat di belakang saya bisa melesat sangat jauh, melawan setiap musuh, termasuk proxy-proxy Iran di wilayah kita,” tegas Netanyahu, merujuk pada kelompok Hizbullah asal Lebanon yang didukung Iran dan ikut terlibat dalam konflik Suriah.


“Kita secara terus-menerus bekerja menurut pemahaman kita dan kebutuhan untuk mencegah Iran dan proxy-proxynya menyusup ke perbatasan utara kita dan ke wilayah kita secara umum,” imbuhnya.

“Kita melakukan semua hal yang diperlukan,” ucap Netanyahu saat memeriksa sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel yang ada di pangkalan tersebut.

Netanyahu berulang kali menyatakan bahwa Israel tidak akan membiarkan Iran dan sekutunya, Hizbullah, semakin menancapkan pengaruh di Suriah, negara tetangga Israel. Diketahui bahwa Hizbullah, Iran dan Rusia mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad melawan pemberontak dan militan yang bercokol di Suriah.

Dalam beberapa tahun terakhir, Israel melancarkan ratusan serangan udara di wilayah Suriah, yang semuanya ditargetkan terhadap posisi-posisi Iran dan Hizbullah. Setelah sebelumnya selalu bungkam, Israel beberapa waktu terakhir mengakui serangan-serangan yang dilancarkan terhadap posisi Iran di Suriah.

Netanyahu, dalam pernyataan terbaru seperti dilansir Reuters, mengakui bahwa militer Israel kembali menggempur posisi Iran di Suriah pada Senin (11/2) waktu setempat.

“Kita beroperasi setiap hari, termasuk kemarin, terhadap Iran. Sepanjang waktu. Terhadap Iran dan terhadap upaya-upayanya menyusup ke area ini,” ungkap Netanyahu kepada wartawan sebelum terbang ke Polandia untuk menghadiri konferensi perdamaian dan keamanan Timur Tengah.

Secara terpisah, militer Suriah mengonfirmasi adanya serangan udara di wilayahnya pada Senin (11/2) waktu setempat. Serangan itu disebut mengenai wilayah Provinsi Quneitra, namun tidak memicu korban jiwa dan hanya memicu kerusakan materi.

(nvc/ita)