Pejabat Kedubes Selandia Baru Bersalah Pasang Kamera Tersembunyi di Toilet

Wellington – Salah satu pejabat Kedutaan Besar (Kedubes) Selandia Baru di Amerika Serikat (AS) terbukti bersalah telah memasang kamera tersembunyi di toilet kedutaan. Hal ini dilakukan si pejabat untuk merekam diam-diam orang-orang yang menggunakan toilet uniseks di Washington DC tersebut.

Seperti dilansir AFP, Kamis (18/4/2019), Alfred Keating (59) diketahui menjabat sebagai atase militer senior pada Kedubes Selandia Baru di Washington DC saat sebuah kamera tersembunyi ditemukan di dalam toilet kedutaan pada terungkap Juli 2017.

Saat itu Keating yang berpangkat Commodore pada Angkatan Laut (AL) Selandia Baru, menjadi pejabat militer paling senior Selandia Baru yang ditugaskan di AS. Keating diketahui memiliki kekebalan diplomatik di AS, sehingga dia akhirnya diadili di Wellington, Selandia Baru.


Oleh pengadilan Selandia Baru, Keating yang telah mundur dari militer ini dijerat dakwaan berupaya merekam video intim. Dia bersikeras membantah dakwaan tersebut. Namun dalam persidangan selama dua pekan terakhir, para juri Pengadilan Tinggi secara mutlak menjatuhkan vonis bersalah terhadap Keating.

Kamera kecil yang dipasang di dalam saluran pemanas di dalam toilet kedutaan itu, ditemukan setelah panel yang menjadi pelindungnya terjatuh ke lantai. Debu tebal yang menempel pada kamera itu menunjukkan benda ini telah dipasang selama berbulan-bulan di dalam toilet.

Diungkapkan dalam pengadilan bahwa media card yang terpasang pada kamera kecil itu memiliki jejak DNA Keating. Diketahui juga bahwa media card itu pernah terhubung, setidaknya sekali, dengan laptop milik Keating.

Jaksa penuntut Henry Steele menyatakan bahwa motif Keating dalam kasus ini adalah untuk merekam secara sembunyi-sembunyi, para koleganya yang memakai toilet. “Ini bukan aksi spionase,” tegas jaksa Steele dalam argumennya.

Sidang yang dipimpin oleh hakim Robert Ronayne ini akan dilanjutkan pada 25 Juni mendatang, dengan agenda penjatuhan vonis. Keating yang tampak tanpa emosi dalam persidangan ini, terancam dihukum 18 bulan penjara atas perbuatannya ini.

(nvc/dhn)