Pasca 2 Kecelakaan Fatal, Boeing Perbaiki Software 737 MAX

Seattle – Boeing menyatakan pihaknya telah memprogram ulang perangkat lunak (software) pada 737 MAX-nya. Perbaikan itu dilakukan untuk mencegah data yang salah memicu sistem anti-stall yang disorot usai dua kecelakaan fatal dalam 5 bulan.

Dilansir dari Reuters, Kamis (28/3/2019), pihak Boeing menyatakan sistem anti-stall yang diyakini telah berulang kali memaksa hidung pesawat lebih rendah dalam setidaknya satu kecelakaan, di Indonesia Oktober lalu, hanya akan melakukannya sekali per peristiwa setelah merasakan masalah, memberikan pilot kontrol lebih.


Sistem ini juga akan dinonaktifkan jika dua sensor aliran udara yang mengukur data penerbangan utama menunjukkan pembacaan yang sangat berbeda. Perusahaan asal Amerika Serikat itu menyatakan bakal melakukan segala cara agar kecelakaan tak lagi terulang.

“Kami akan melakukan segala yang dapat kami lakukan untuk memastikan bahwa kecelakaan seperti ini tidak pernah terjadi lagi,” Mike Sinnett, Wakil Presiden untuk Strategi Produk dan Pengembangan Pesawat Masa Depan.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 sebelumnya disorot usai dua kecelakaan fatal yang menewaskan ratusan orang. Kecelakaan pertama terjadi di Indonesia pada Oktober 2018, yaitu saat pesawat Lion PK-LQP jatuh di perairan Karawang dan menewaskan 189 orang.

Peristiwa kedua adalah saat Pesawat Ethiopian Airlines berjenis Boeing 737 MAX 8 yang membawa 157 penumpang dan awak, jatuh saat mengudara ke Nairobi, Kenya pada Minggu (11/3) waktu setempat. Seluruh penumpang dan awak di pesawat itu tewas. Sejumlah negara pun menerbitkan larangan terbang bagi pesawat Boeing 737 MAX 8.
(haf/haf)