OPCW Pastikan Gas Klorin Dipakai dalam Serangan Kimia di Douma Suriah

Den Haag – Organisasi pemantau senjata kimia dunia, OPCW, merilis laporan akhirnya soal dugaan serangan kimia mematikan di Suriah yang dilanda konflik. Laporan yang ditunggu sejak lama itu menyatakan bahwa gas klorin digunakan dalam serangan kota Douma, yang dikuasai pemberontak Suriah, tahun 2018 lalu.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (2/3/2019), laporan dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia atau OPCW itu didasarkan pada kunjungan para pemeriksa ke lokasi serangan di Douma. Sejumlah saksi menyebut serangan kimia di Douma menewaskan 43 orang pada April 2018.

Negara-negara Barat yang dipimpin Amerika Serikat (AS) menyalahkan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad atas serangan mematikan itu. Mereka juga melancarkan serangan udara terhadap target-target instalasi militer Suriah sebagai balasannya.


Dalam laporannya, OPCW yang berkantor di Den Haag, Belanda ini menyebut ada dua tabung yang kemungkinan besar berisi gas klorin yang menghantam sebuah blok permukiman di kota Douma.

“Ada alasan masuk akal bahwa penggunaan zat kimia beracun sebagai senjata telah terjadi pada 7 April 2018. Zat kimia beracun ini mengandung klorin reaktif,” sebut laporan OPCW yang baru dirilis. Klorin merupakan unsur halogen yang dipisahkan menjadi gas yang beracun dan berbau menyesakkan.

Disebutkan juga dalam laporan OPCW itu bahwa tidak ada bukti penggunaan gas saraf di Douma, yang sebelumnya juga diduga dipakai dalam konflik Suriah.

Laporan ini mengonfirmasi laporan sementara OPCW pada Juli 2018 lalu yang menyebut adanya bekas klorin di Douma. Namun laporan ini tidak menyebut lebih lanjut pihak yang bertanggung jawab atas serangan kimia itu.

Tim pemeriksa OPCW mengambil lebih dari 100 sampel dari tujuh lokasi di Douma saat mereka mendapatkan akses masuk ke kota tersebut sebelum dilarang selama beberapa minggu. OPCW menyatakan pihaknya telah mencapai kesimpulan yang didasarkan pada ‘testimoni para saksi, hasil analisis sampel lingkungan dan biomedis, analisis toksikologi dan balistik dari para pakar’.

Laporan OPCW juga menyebutkan bahwa ‘dua tabung industri warna kuning yang berisi gas bertekanan’ ditemukan di lokasi. Salah satu tabung gas itu mengenai kompleks permukiman dan hancur. “Kemungkinan bahwa tabung-tabung itu menjadi sumber zat yang mengandung klorin reaktif,” sebut OPCW dalam laporannya.

Ditegaskan OPCW bahwa para saksi menuturkan bahwa 43 kematian yang terjadi di Douma terkait insiden kimia. Para korban tewas bisa dilihat dalam video dan foto yang dikumpulkan pemeriksa OPCW. Para korban disebut bergelimpangan di beberapa lantai apartemen dan di depan gedung yang sama.

“Itu mengindikasikan paparan akibat zat yang mengiritasi atau beracun jika dihirup,” sebut OPCW, sembari menyebut para korban mengalami luka terbakar di mata dan mengeluarkan busa dari mulut.

OPCW dalam laporannya membantah klaim rezim Suriah bahwa gas yang mengandung zat kimia beracun itu berasal dari fasilitas dan gudang senjata kimia milik pemberontak. “Dari analisis informasi yang dikumpulkan saat kunjungan ke lokasi ke gudang dan fasilitas yang dicurigai memproduksi senjata kimia, tidak ada indikasi bahwa fasilitas-fasilitas itu terlibat dalam produksi (senjata kimia),” tegas OPCW.

Laporan ini selanjutnya akan dibawa kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

(nvc/rna)