Ngaku Bisa Hidupkan Orang Mati, Pendeta Afrika Jadi Bahan Olok-olok

Johannesburg – Aksi seorang pendeta di Johannesburg, Afrika Selatan (Afsel), yang diklaim mampu menghidupkan orang mati memicu kehebohan di media sosial. Banyak netizen melakukan parodi atas aksi pendeta bernama Alph Lukau yang terekam video yang menjadi viral itu.

Seperti dilansir AFP dan BBC, Rabu (27/2/2019), video yang menunjukkan pendeta Alph Lukau dari Alleluia Ministries International di Johannesburg sedang ‘menghidupkan’ seorang pria yang disebut telah meninggal dunia, mencuat sejak akhir pekan lalu dan dengan cepat menjadi viral.

Dalam video itu terlihat pendeta Lukau meletakkan kedua tangannya di atas seorang pria berpakaian serba putih yang terbaring di dalam sebuah peti mati. Dia kemudian berkata ‘bangkit’ ke arah pria di dalam peti mati itu.


Tak lama kemudian, pria tersebut bangun dengan mulut menganga dan duduk di dalam peti mati. Hal itu disebut mukjizat dan disambut sorakan jemaat lainnya. BBC melaporkan bahwa aksi itu dilakukan pendeta Lukau di luar gedung gerejanya yang ada di dekat Johannesburg.

“Tidak ada mukjizat seperti itu,” tegas Komisi Kemajuan dan Perlindungan Komunitas Budaya, Keagamaan dan Linguistik (Komisi HAM CRL) kepada televisi nasional Afsel dan dilansir BBC. “Aksi itu direkayasa untuk berusaha mendapatkan uang dari orang-orang tak berdaya,” imbuh Komisi HAM CRL.

Aksi itu menjadi bahan olok-olok para pengguna media sosial. Hanya dalam beberapa jam, tagar #ResurrectionChallenge menjadi trending di Twitter dengan kebanyakan pengguna media sosial itu memposting foto dan video parodi adegan kebangkitan orang mati seperti yang dilakukan pendeta Lukau.

Salah satu pengguna Twitter bernama Jusca memposting foto dirinya sendiri dengan raut wajah terkejut dan sedang duduk di dalam bathtub. “Alarm saya baru saja menghidupkan saya kembali untuk bangun,” tulis Jusca dalam keterangan fotonya.

Seorang netizen lainnya bernama Dikano Sino memposting sebuah video yang menunjukkan sebuah ruang kelas berisi para siswa yang terbaring di meja dan saat sang guru datang, para siswa itu melakukan gerakan seolah ‘dihidupkan kembali.

Aksi pendeta Lukau itu menuai gugatan dari tiga rumah duka yang menyebut pihak mereka ditipu oleh ‘skema’ semacam itu. Ketiga rumah duka itu terdiri dari Kingdom Blue, Kings & Queens Funeral Services dan Black Phoenix. Mereka yang menyediakan peti mati dan mobil jenazah secara tidak langsung dianggap terlibat dalam aksi si pendeta.

Kepada media lokal, ketiga rumah duka itu menyebut perwakilan pihak gereja yang dipimpin pendeta Lukau telah menipu mereka dengan beberapa cara. Ketiga rumah duka itu akan mengajukan gugatan hukum secara resmi terhadap si pendeta karena dianggap telah mencoreng reputasi mereka.

“Sebagai Layanan Pemakaman Kings & Queens, kami ingin menjauhkan diri kami dari hal yang disebut sebagai menghidupkan kembali orang mati. Kami sedang dalam proses mengajukan langkah hukum atas kerusakan berbahaya pada citra kami ini,” demikian pernyataan pihak Kings & Queens.

Pihak Gereja Allelulia sendiri, seperti dikutip media lokal The Sowetan, enggan mengomentari kritikan dan kecaman yang muncul. Kepada media lokal, pihak gereja menyebut aksi itu bukanlah ‘mukjizat membangkitkan orang mati’. Pihak gereja menyatakan bahwa pria yang ‘meninggal’ itu faktanya ‘sudah hidup’ saat dibawa ke lokasi aksi di Kramerville dan pendeta Lukau hanya ‘melengkapi mukjizat yang telah dimulai Tuhan’.

(nvc/ita)