Netanyahu Akui Militer Israel Serang Depot Senjata Iran di Suriah

Tel Aviv – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan militer Israel telah menyerang depot senjata Iran di Suriah pada akhir pekan. Pernyataan ini tergolong pengakuan yang langka atas operasi militer Israel di Suriah.

“Dalam 36 jam terakhir, Angkatan Udara telah menyerang gudang-gudang Iran dengan persenjataan Iran di Bandara Internasional Damaskus,” ucap PM Netanyahu dalam rapat kabinet pada Minggu (13/1) waktu setempat dan dilansir CNN, Senin (14/1/2019).

“Hitungan total dari serangan terakhir membuktikan bahwa kita jauh lebih gigih daripada sebelumnya untuk bertindak melawan Iran di Suriah seperti yang kami janjikan,” imbuhnya.


PM Netanyahu yang juga menjabat sementara sebagai Menteri Pertahanan Israel ini, menyampaikan hal itu saat memberikan pernyataan soal Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel (IDF) Letnan Jenderal Gadi Eizenkot yang mengakhiri jabatannya.
Pada Jumat (11/1) malam, kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa sejumlah pesawat tempur Israel menembakkan sejumlah rudal ke arah bandara di ibu kota Damaskus. Sebagian besar rudal Israel itu diklaim Suriah, berhasil ditembak jatuh.

Laporan SANA menyebut serangan udara Israel itu memicu kerusakan pada sebuah gudang di kompleks bandara. Namun tidak disebut lebih lanjut apakah serangan udara itu mempengaruhi operasional bandara.

Seiring berkembangnya konflik Suriah menjadi perang proxy yang rumit, laporan-laporan soal serangan udara Israel terhadap target-target terkait Iran di Suriah banyak bermunculan. Namun seringkali Israel tidak mengakui operasi lintas perbatasan yang dilakukannya.

Pemerintah Israel lebih memilih untuk tidak berkomentar meskipun informasi yang beredar luas menyebut Angkatan Udara Israel ada di balik serangan tersebut.

Pada April 2018 lalu, PM Netanyahu akhirnya mendobrak kebijakan sejak lama Israel ketika dia secara terang-terangan mengakui bahwa Israel telah melancarkan ‘puluhan’ serangan melintasi perbatasan Suriah.

Posisi Israel dalam konflik Suriah cenderung netral. Namun otoritas Israel juga secara jelas menyatakan bahwa mereka akan memberikan respons terhadap kehadiran Iran yang terus berkembang di Suriah. Iran diketahui menjadi sekutu rezim Presiden Bashar al-Assad dalam konflik Suriah.

Para pejabat Israel berulang kali menyatakan garis merah Israel seperti mencegah pemindahan senjata bertenaga tinggi kepada Hizbullah — militan asal Lebanon yang dianggap sebagai proxy Iran dalam konflik Suriah, kemudian mencegah pelanggaran kedaulatan Israel dan berupaya menghentikan Iran membangun markas di Suriah.

(nvc/ita)