Kisah Kelam Korban Kekerasan Seks Pastor: Hamil dan Dipaksa Aborsi

Los Angeles – Denise Buchanan berusia 17 tahun ketika diperkosa oleh seorang calon pastor di Jamaica. Buchanan mengakui dirinya sempat hamil dan melakukan aborsi paksa sebanyak dua kali.

Seperti dilansir AFP, Selasa (19/2/2019), Buchanan yang kini berusia 57 tahun dan menjadi akademisi, bergabung dengan organisasi internasional baru bernama Ending Clerical Abuse (ECA). Pekan ini, Buchanan mengumpulkan korban-korban kekerasan seksual pastor di Roma, untuk mendorong Paus Fransiskus mengambil langkah lebih tegas dalam menindak tindak kekerasan seksual terhadap anak oleh para pastor.

Buchanan sendiri berjuang selama puluhan tahun untuk mendapat pengakuan dari Gereja Katolik sebagai korban kekerasan seksual, sementara pastor yang melakukan kekerasan seksual terhadapnya lolos dari jerat hukum. Buchanan sempat menulis surat langsung ke Paus di Vatikan soal kisahnya.

“Saya hamil dan dia (sang pastor-red) mengatur aborsi secara diam-diam,” tutur Buchanan kepada AFP, menceritakan pengalaman pahit yang terjadi 40 tahun lalu. Buchanan tak bisa menahan air mata dan masih gemetar saat membahas kisah kelam ini.
Perjuangan Buchanan selama puluhan tahun menggarisbawahi rasa terpinggirkan yang dirasakan kebanyakan korban kekerasan seksual oleh pastor. Terlebih pihak gereja biasanya menyangkal. Para korban yang ada di negara miskin semakin tak berdaya karena gereja sangat berpengaruh kuat dalam masyarakat.

Dituturkan Buchanan bahwa kasus yang dialaminya berawal saat dia dikenalkan dengan seorang murid seminari atau calon pastor bernama Paul. Saat itu Buchanan masih berusia 17 tahun dan tinggal bersama keluarganya di Kingston, Jamaica.

Buchanan menyebut saat itu Paul yang anggota Congregation of the Passion of Jesus Christ mengaku tertarik dengan dirinya. Paul mendekati Buchanan hingga suatu ketika Paul mencium paksa dan menyentuh Buchanan secara tidak pantas. Saat itu Buchanan merasa sangat malu dan memutuskan tidak memberitahu orangtuanya karena mengkhawatirkan reaksi mereka.

Paul terus menemui Buchanan dengan dalih misa dan kunjungan ke asrama pastor. Suatu hari, Buchanan diajak untuk melihat kamar Paul dan terjadilah kekerasan seksual terhadapnya. Beberapa hari kemudian, Buchanan diperkosa setelah dibujuk minum wine. “Saya merasa sesuatu di dalam saya mati pada hari itu,” ucapnya lirih.

Beberapa pekan kemudian, Buchanan mendapati dirinya hamil. Menurut Buchanan, Paul mengatur aborsi ilegal untuk dirinya. “Semua yang saya pikirkan saat itu adalah betapa saya menjadi aib bagi keluarga saya,” ujarnya.

Setelah ditahbiskan menjadi pastor, Paul masih sering menemui Buchanan ke kampusnya. Keduanya berhubungan intim dengan Buchanan mengakui dirinya tidak melawan karena merasa tak pantas dan sendirian. “Saya patuh seperti robot. Saya tidak peduli apapun pada titik itu,” sebutnya.

Umur 21 tahun, Buchanan kembali hamil dan lagi-lagi melakukan aborsi ilegal. Akibat aborsi kedua, Buchanan pun tidak bisa punya anak lagi untuk selamanya.

Buchanan yang mulai mengalami depresi ini berhasil pindah ke Kanada pada usia 25 tahun untuk melanjutkan kuliah. Dia kemudian pindah ke Los Angeles, Amerika Serikat hingga menjadi seorang psychiatric neurologist. Kini dia mengajar sebagai dosen di salah satu universitas setempat. Buchanan sempat menikah saat tinggal di Kanada namun bercerai dua tahun setelah menikah.

“Saya menanggung rasa bersalah dan rasa malu seumur hidup saya dan saya telah menjalani terapi untuk depresi selama beberapa dekade,” ucapnya.

Tahun 2013, Buchanan menulis buku soal kisahnya ini. Salinan bukunya yang berjudul ‘Sins of the Fathers‘ itu dia kirimkan kepada Paus di Vatikan ‘setiap bulan selama 1,5 tahun’. Buchanan kembali ke Jamaica bersama seorang pengacara pada November 2017. Di sana, dia bertemu Uskup setempat dan pastor Paul, yang masih bertugas secara aktif.

“Dalam pertemuan itu, pastor (Paul) mengakui dia berhubungan seks dengan saya (bukan pemerkosaan), dia mengakui bahwa dia telah menghamili saya tapi dia tidak mengakui telah mengatur aborsi,” tutur Buchanan.

Usai pertemuan itu, Pastor Paul menghilang dari parokinya. “Tidak ada yang tahu di mana dia,” imbuh Buchanan. “Saya bekerja di ECA agar apa yang terjadi pada saya tidak terjadi pada anak-anak lainnya,” ucap Buchanan sambil berbisik.

(nvc/dhn)