Kisah Heroik Pria Sri Lanka Cegat Pengebom di Pintu Gereja

Colombo – Kisah heroik seorang pria Sri Lanka saat mencegat pengebom masuk ke salah satu gereja yang menjadi target serangan pada Minggu (21/4) lalu, mencuat. Aksi berani pria ini menyelamatkan nyawa ratusan orang yang ada di dalam gereja yang sedang menggelar perayaan Paskah saat serangan terjadi.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (27/4/2019), Ramesh Raju (40) dijuluki pahlawan setelah mencegat satu pengebom bunuh diri untuk masuk ke dalam Gereja Zion di Batticaloa pada Minggu (21/4) lalu. Raju menghadapi pengebom itu di pintu gereja setelah mendapatinya membawa dua tas berukuran besar.

Raju bersama 28 orang lainnya, termasuk 14 anak-anak, tewas akibat ledakan bom di Gereja Zion. Namun sekitar 600 orang lainnya yang ada di dalam gereja saat itu, berhasil selamat. Selain Gereja Zion, ledakan bom juga mengguncang dua gereja lainnya dan empat hotel. Otoritas Sri Lanka melaporkan jumlah korban tewas mencapai 253 orang.

“Ketika dia merasa ada yang mencurigakan soal pengebom, dia bisa saja berlari untuk menyelamatkan diri, tapi saya pikir dia memilih untuk menghadapinya untuk mencegahnya masuk ke gereja,” ucap ayah Raju, Velusami, kepada AFP.

“Saya merasa sangat bangga bahwa dia menyelamatkan begitu banyak nyawa, khususnya begitu banyak anak-anak,” imbuhnya.

Kota Batticaloa yang ada di pinggiran Sri Lanka diduga menjadi target serangan bom karena militan lokal Jamaah Tauhid Nasional (NTJ) yang ada di balik serangan itu, berasal dari kota yang mayoritas ditinggali warga muslim tersebut.

Gereja Zion dilaporkan penuh sesak oleh jemaat saat ledakan terjadi. Ada puluhan anak-anak yang baru saja mengikuti Sekolah Minggu di gereja tersebut. Menurut para saksi mata, Raju saat itu menjadi relawan untuk membantu mengatur para jemaat di bagian depan gereja.

Ketika Raju mendapati kehadiran seorang pria tak dikenal membawa dua tas berukuran besar, dia mendekatinya. Raju, menurut saksi mata, meminta pria itu meninggalkan tasnya di luar gereja. Ledakan pun terjadi saat keduanya sedang berdebat soal tas tersebut. Sejumlah anak-anak dan orangtua mereka yang ada di luar gereja tewas bersama Raju akibat ledakan itu.

“Dia pria yang sangat baik. Setiap kenangan yang kami miliki sangatlah berharga… Dia penyokong utama keluarga kami, untuk tiga adik perempuan dan satu adik laki-lakinya,” ucap Velusami. Raju juga diketahui meninggalkan seorang istri dan dua anak.

Raju dan ayahnya baru saja bicara via telepon beberapa menit sebelum ledakan terjadi. Raju berjanji untuk menghubungi ayahnya begitu ibadah selesai digelar. Namun saat telepon sang ayah berdering, bukan suara Raju yang didengar, melainkan seorang jemaat gereja yang memberitahu Raju tewas akibat ledakan.

Salah satu adik perempuan Raju, bersama suami dan bayi laki-lakinya yang baru berusia 20 bulan, juga tewas akibat ledakan itu.

“Saya kehilangan cucu saya tapi pada saat yang sama saya merasa bangga bahwa putra saya menyelamatkan begitu banyak anak-anak, agar keluarga-keluarga lainnya tidak perlu merasakan apa yang kami alami sekarang,” ujar Velusami sembari menahan tangisnya.

Nyaris sepekan setelah ledakan mengguncang, ruas jalanan menuju rumah Raju dipenuhi poster dan fotonya. Para pelayat mengantre untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Raju.

“Banyak tentara yang datang ke pemakaman dan memberikan penghormatan pada peti matinya karena keberaniannya. Saya harap tindakan anak saya menginspirasi orang lain untuk bisa berani,” tandas Velusami.

(nvc/fdn)