Kesaksian Mereka yang Selamat dari Teror di New Zealand

Christchurch – Kisah-kisah mereka yang selamat saat teror di masjid Selandia Baru (New Zealand) bermunculan. Mulai dari WNI yang selamat hingga warga yang dengan berani mengejar pelaku.

Sejauh ini, 50 orang tewas dalam teror di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood, Christchurch pada hari Jumat (15/3). Salah satu pelaku teror penembakan itu, Brenton Tarrant, sudah diadili atas aksi keji itu. Tindakan teror tersebut ditegaskan bertentangan dengan nilai yang Selandia Baru perjuangkan.

Peristiwa ini menjadi memori kelam bagi Irfan Yunianto, seorang mahasiswa doktoral asal Indonesia. Irfan yang awalnya menunaikan salat sunnah di masjid, tiba-tiba langsung mendengar suara seperti letusan. Situasi saat itu genting. Beruntung Irfan persis berada dekat pintu keluar sehingga bisa melarikan diri.


Bagaimana tidak, kondisi mentalnya sempat terguncang, apalagi ketika menyaksikan video penembakan yang banyak beredar. I
“Saat itu insting saya mengatakan mungkin ada trafo meledak. Tapi ada suara tembakan beruntun dor dor dor dor, orang-orang mulai panik. Karena posisi saya persis berada di depan pintu emergency exit, saya langsung buka tanpa halangan. Orang-orang pada keluar, saya ikut lari. Kami ke luar, lari ke parkiran mobil di belakang, luas. Semua orang panik, kemudian memanjat pagar,” kata Irfan kepada BBC, Sabtu (16/3).

WNI lainnya yang selamat dari teror adalah Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP Unsyiah) Aceh, Dian Fajrina. Hari itu, Dian bersama keluarga urung melaksanakan salat Jumat di Masjid An Noor, Christchurch karena mobil mogok.

“Dari Senin lalu, kami berencana salat Jumat di masjid Christchurch,” kata Dian seperti disampaikan Humas Unsyiah dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Minggu (17/3).

Dian berkisah, keluarganya memang kerap melaksanakan salat di Masjid An Noor karena letaknya sekitar 3,7 kilometer dari tempat mereka tinggal. Pada minggu lalu, suami dan anak-anak Dian sudah mengagendakan untuk salat Jumat di masjid tersebut.

Selain itu, terselip kisah heroik dari Abdul Aziz (48), seorang jemaah laki-laki yang merelakan dirinya jadi sasaran demi mengalihkan perhatian pelaku dan agar tak jatuh lebih banyak korban.

Dilansir dari The Telegraph, Minggu (17/3), saat ada penyerangan Abdul Aziz memilih tidak melarikan diri, dia justru mengambil benda apapun di dekatnya untuk menarik perhatian pelaku.

Aziz sempat saling kejar dan kucing-kucingan dengan pelaku. Sementara empat putra Aziz dan sejumlah jemaah lain masih berada dalam masjid dan mereka ‘diberi’ kesempatan melarikan diri oleh Aziz.

Dikejar-kejar Aziz, pelaku kemudian masuk ke dalam mobilnya. Tak berapa lama, pelaku melarikan diri. Masjid Linwood sendiri berlokasi sekitar 5 kilometer dari Masjid Al Noor atau sasaran teror pertama.
(dkp/jbr)