Kasus Guru Jadi Korban Kekerasan Juga Terjadi di Luar Negeri

Jakarta – Relasi guru dan murid menjadi pikiran pemerhati pendidikan. Di Indonesia, acapkali terjadi kekerasan oleh guru terhadap murid, bahkan sebaliknya, murid berani melawan guru. Kekerasan oleh murid atau pihak murid terhadap guru juga terjadi di negara-negara maju. Ini harus dihindari.

Pada Oktober 2017, muncul video viral dari Negeri Sakura yang bikin marah khalayak internasional saat itu. Video ini beredar via jejaring kelompok percakapan internet, aplikasi LINE, sebagaimana dilaporkan Huffington Post Japan.

Dilansir AsiaOne dan Japan Today, video itu merekam peristiwa yang terjadi di sekolah Fukuoka, Jepang. Seorang guru usia 23 tahun memperingatkan satu murid pria usia 16 tahun untuk berhenti bermain ponsel saat di kelas. Namun murid tersebut malah melawan. Murid itu mendekati guru dan menendang betisnya, tendangan dilakukan murid itu lebih dari dua kali diikuti pukulan keras ke punggung. Murid itu bahkan menarik kerah guru.

Terdengar suara tawa siswa-siswi lain di dalam kelas itu. Menurut laporan perkembangan selanjutnya, siswa itu ditangkap polisi prefektur Fukuoka pada 29 September 2017, atau sebelum video ini diberitakan. Guru itu menderita luka ringan termasuk memar.

Menurut hukum Jepang, guru-guru tidak boleh menyakiti murid secara fisik dalam kondisi apapun. Ini sudah diatur sejak Jepang punya Undang-Undang Pendidikan Sekolah tahun 1947, sebagaimana dilansir Japan Times.

Di Amerika Serikat (AS), anak usia 12 tahun menodong kepala gurunya dengan pistol. Dilansir BBC, peristiwa ini terjadi di sebuah SMP North Scott, Eldridge, kawasan dekat Iowa pada 31 Agustus 2018.

Pelatuk pistol itu telah ditarik, peluru siap meluncur ke wajah si guru. Namun guru itu berhasil membujuknya untuk menurunkan senjata. Beruntung, tak ada yang terluka akibat peristiwa ini.

Anak itu didakwa melakukan percobaan pembunuhan, membawa senjata ke sekolah, dan melakukan penyerangan menggunakan senjata berbahaya. Dia kemudian ditangkap dan ditempatkan di pusat tahanan anak.

Di Prancis, guru SD di kota Albi tewas ditusuk oleh ibu dari muridnya pada 4 Juli 2014. Peristiwa mengerikan itu terjadi di depan kelas, disaksikan oleh murid-murid. Guru itu bernama Fabienne Terral-Calmes (34) yang bekerja di sekolah Edouard Herriot.

Peristiwa berlangsung saat pelaku membawa anaknya yang berusia 5 hingga 6 tahun. Pelaku kemudian berteriak, “Saya bukan pencuri!” Kemudian pelaku menusukkan pisau panjang ke guru nahas itu.

Pelaku yang berusia 47 tahun ditangkap polisi di rumahnya. Pelaku menderita gangguan mental serius. Presiden Prancis saat itu, Francois Hollande memerintahkan penanganan khusus untuk anak-anak dan staf sekolah yang menjadi saksi kejadian keji itu.

Ternyata, berdasarkan institut statistik nasional Prancis, lebih dari 10 tenaga pengajar di Prancis melaporkan mengalami kekerasan atau ancaman saat bekerja, angkanya dua kali lipat ketimbang profesi selain guru.

Di Inggris, seorang guru perempuan di Corpus Christi bernama Ann Maguire (61) ditusuk hingga tewas oleh muridnya bernama Will Cornick (15) pada April 2014. Cornick dihukum seumur hidup pada 2014 setelah dia mengakui membunuh Maguire, guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Spanyol selama 40 tahun.

Di Indonesia, baru saja terjadi peristiwa di Bojonegoro. Seorang siswa tidak terima saat dinasihati gurunya, karena si guru mencekik lehernya. Si siswa mengadakan perlawanan, duel terjadi, dan siswa dibanting oleh guru.

Sebelumnya, terjadi peristiwa di SMP PGRI Wringinanom Gresik Jawa Timur. Terlihat di video viral pada Februari lalu, seorang murid tiba-tiba memegang kepala gurunya. Kemudian mendorong si guru dan mencengkeram kerah bajunya seakan-akan hendak memukul si guru sambil memaki. Guru itu bernama Nur Kalim mengampu mata pelajaran IPS di Kelas III SMP itu. Siswa itu akhirnya meminta maaf.

Februari 2018, guru kesenian SMAN I Torjun, Sampang, Achmad Budi Cahyono meninggal akibat penganiayaan yang dilakukan oleh salah satu anak didiknya sendiri. Awalnya pelaku inisial MH ramai dan mengganggu teman lainnya dan mencoret-coret lukisan teman lainnya. Korban mengingatkan siswa nakal itu, tapi tak dihiraukan, malah menjadi-jadi mengganggu teman lainnya. Korban mendatangi dan mencoret pipi pelaku dengan cat lukis. Tapi siswa itu tiddak terima dan menganiaya sang guru.

Setelah peristiwa itu, Budi dipersilahkan pulang oleh kepala sekolah. Sampai di rumah, korban langsung tidur, karena mengeluh sakit pada lehernya. Karena mengeluh itu, korban akhirnya dilarikan ke RSU dr Soetomo Surabaya oleh keluarganya. Sekitar pukul 21.40 wib, kepala sekolah SMAN 1 Torjun menyampaikan kabar duka, bahwa guru seni rupa itu meninggal dunia.

(dnu/azr)