Jurnalis AS Ditahan karena Maduro Tak Suka dengan Pertanyaannya

Caracas – Tim jurnalis dari jaringan televisi Amerika Serikat (AS) yang berbahasa Spanyol, Univision, sempat ditahan selama beberapa jam saat mewawancarai Presiden VenezuelaNicolas Maduro di Caracas. Penyebabnya, Maduro tidak suka dengan pertanyaan yang diajukan jurnalis.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (26/2/2019), tim jurnalis beranggotakan enam orang dari Univision yang dipimpin penyiar televisi senior, Jorge Ramos, ini ditahan selama lebih dari dua jam di dalam Istana Kepresidenan Miraflores di Caracas pada Senin (25/2) waktu setempat.

Dituturkan Ramos via telepon kepada pihak Univision yang berkantor di New York, AS, dirinya dan timnya ditahan setelah Maduro mengatakan dia tidak menyukai pertanyaan yang diajukan kepadanya.



Menurut Ramos, saat itu dirinya bertanya kepada Maduro soal kurangnya demokrasi di Venezuela, kemudian soal penyiksaan terhadap para tahanan politik dan soal krisis kemanusiaan yang kini melanda Venezuela.

Ramos menyebut bahwa Maduro langsung menghentikan wawancara ketika dirinya menunjukkan kepada Maduro sebuah video yang menunjukkan anak-anak Venezuela makan dari truk sampah.

“Mereka menyita semua perlengkapan kami,” ucap Ramos dalam pernyataannya. “Mereka memiliki (rekaman) wawancaranya,” imbuhnya.

Dalam tanggapannya, Menteri Informasi Venezuela, Jorge Rodriguez, menyatakan bahwa pemerintah Venezuela di masa lalu telah menyambut ratusan jurnalis ke Istana Kepresidenan Miraflores, namun tidak mendukung ‘pertunjukan murahan’ yang dilakukan dengan bantuan Departemen Luar Negeri AS.

Pihak Univision dan Departemen Luar Negeri AS langsung menyerukan pembebasan tim jurnalis itu setelah Ramos menghubungi kantornya untuk melaporkan penahanan mereka.

Wawancara dengan jurnalis Univision itu dilakukan Maduro pada Senin (25/2) saat pemerintah AS menargetkan Venezuela dengan sanksi-sanksi baru dan menyerukan sekutu-sekutunya untuk membekukan aset-aset perusahaan minyak milik negara, PDVSA. Beberapa hari sebelumnya, kekerasan mematikan terjadi di perbatasan saat pasukan militer Venezuela memblokir penyaluran bantuan kemanusiaan dari negara tetangganya.

(nvc/ita)