Jet Siluman Jepang Jatuh, Insiden Kedua yang Dialami F-35 di Dunia

Tokyo – Insiden jatuhnya jet tempur siluman F-35 milik Jepang ke Samudra Pasifik menjadi insiden kedua yang melibatkan jet tempur termahal dan salah satu yang tercanggih di dunia itu. Insiden pertama terjadi di South Carolina, Amerika Serikat (AS) pada September 2018 lalu.

Seperti dilansir CNN dan Reuters, Rabu (10/4/2019), jet tempur F-35 milik Jepang yang jatuh itu diketahui berusia kurang dari satu tahun. Jet tempur itu diantarkan kepada Angkatan Udara Jepang (ASDF) pada Mei 2018 oleh perusahaan dirgantara AS, Lockheed Martin.

Jet siluman itu dirakit oleh Mitsubishi Heavy Industries Ltd di sebuah pabrik di dekat Nagoya, Jepang bagian tengah. Perakitan setiap jet siluman F-35 diketahui memakan biaya hingga US$ 100 juta (Rp 1,3 triliun). Harga itu sedikit lebih mahal dibandingkan jika membeli langsung jet tempur yang telah dirakit secara penuh.

Jet siluman milik Jepang yang jatuh pada Selasa (8/4) malam waktu setempat diketahui merupakan model F-35A.

Diketahui bahwa F-35 memiliki tiga versi. Model F-35A dirancang bagi Angkatan Udara untuk penggunaan di landasan konvensional. Model F-35B dirancang untuk lepas landas di landasan pendek dan pendaratan vertikal. Model F-35C khusus dirancang untuk Angkatan Laut, dengan penggunaan di kapal induk.

Jatuhnya jet tempur siluman F-35A milik Jepang menjadi insiden kedua yang dialami oleh jet siluman jenis F-35 sejak mengudara nyaris selama 20 tahun terakhir. Namun insiden ini menjadi insiden pertama yang dialami model F-35A.

Insiden pertama F-35 terjadi pada September 2018, saat sebuah jet tempur siluman F-35B milik Korps Marinir AS jatuh di Beaufort, South Carolina. Saat itu, pilot jet tempur tersebut berhasil melontarkan diri dengan selamat tanpa mengalami cedera. Kesalahan pada tabung bahan bakar disebut sebagai penyebabnya. Usai kecelakaan itu, seluruh F-35 milik AS dan sekutu-sekutunya di-grounded untuk diperiksa lebih lanjut.

Penyebab jatuhnya F-35A milik Jepang di Samudra Pasifik saat misi latihan pada Selasa (8/4) malam belum diketahui pasti. Puing-puing pesawat yang diyakini berasal dari ekor jet tempur itu telah ditemukan. Namun pilot jet tempur dilaporkan masih hilang. Militer Jepang bersama militer AS terus melakukan pencarian.

Menyikapi kecelakaan kedua ini, pihak Lockheed Martin menyatakan akan mendukung ASDF jika diperlukan. Departemen Pertahanan AS atau Pentagon menyatakan masih memantau situasi. Sementara Menteri Pertahanan Jepang, Takeshi Iwaya, menyatakan belasan jet tempur F-35 lainnya akan di-grounded hingga penyebab kecelakaan diketahui.

F-35 yang merupakan buatan Lockheed Martin disebut sebagai sistem persenjataan paling mahal dalam sejarah. Teknologi ‘stealth’ atau siluman menjadi faktor kunci bagi jet tempur ini. Bahan dan airframe-nya memungkinkan pilot untuk menembus berbagai wilayah tanpa terdeteksi oleh radar. Jika mengudara, jet tempur ini hanya memunculkan gambaran kecil dan samar di radar, sehingga bisa menembak pesawat musuh sebelum musuh melihatnya.

(nvc/ita)