Jelang Pemilu, PM Thailand Rilis Lagu Terbaru ‘New Day’

Bangkok – Perdana Menteri Thailand dan pemimpin junta militer, Prayuth Chan-O-Cha, merilis lagu balada terbaru menjelang digelarnya pemilihan umum (pemilu) 24 Maret mendatang. Lagu terbaru Prayuth itu memiliki lirik soal merindukan ‘jalur demokrasi’ untuk Thailand.

Seperti dilansir AFP, Selasa (5/3/2019), Prayuth yang mantan panglima militer Thailand ini, mencalonkan diri sebagai kandidat Perdana Menteri (PM) Thailand dari kalangan sipil untuk pemilu mendatang. Sejak mengkudeta pemerintahan sipil Thailand tahun 2014 lalu, Prayuth sudah beberapa kali merilis lagu untuk negaranya.

Lagu balada terbaru Prayuth yang diberi judul ‘New Day‘ dirilis pada Senin (4/3) waktu setempat via YouTube. Video klip untuk lagu ini juga bisa dilihat pada akun resmi Prayuth di Facebook.

“Kita mencari hari baru dalam sejarah Thailand… menuju jalur demokrasi,” demikian bunyi penggalan lagu terbaru yang ditulis oleh PM yang berusia 64 tahun ini.

“Sebuah hari baru untuk Thailand akan datang agar kita bisa memperbaiki kesalahan di masa lalu,” imbuh lirik lagu tersebut.

Lagu balada terbaru yang liriknya ditulis Prayuth itu dinyanyikan oleh dua tentara Thailand. Lagu ini sedikit berbeda dengan lagu-lagu lain yang liriknya juga ditulis oleh Prayuth.

New Day‘ bertemakan soal demokrasi untuk bangsa, sedangkan kebanyakan lagu-lagu Prayuth lainnya berisi tema nasionalisme, dengan menyerukan kekuatan militer sebagai ‘penawar’ untuk persoalan yang sedang dihadapi Thailand.

Diketahui bahwa Thailand tetap terpolarisasi sekitar lima tahun usai militer mengkudeta pemerintahan Yingluck Shinawatra, yang kini mengasingkan diri ke luar negeri. Prayuth yang memimpin kudeta menyatakan dirinya terpaksa melakukan kudeta itu setelah berbulan-bulan menyaksikan aksi protes berdarah terhadap pemerintahan Yingluck.

Sejak Prayuth memimpin Thailand, dia diketahui berulang kali menunda pelaksanaan pemilu, memberangus perbedaan pendapat dan menyusun konstitusi baru yang menanamkan peran militer dalam politik untuk 20 tahun ke depan. Hal itu memancing kemarahan pendukung prodemokrasi di Thailand.

Thailand tidak menggelar pemilu sejak tahun 2011. Setelah bertahun-tahun dikuasai junta militer, kekuatan baru disinyalir muncul dalam pemilu Thailand mendatang. Jika sebelumnya publik terpecah secara jelas antara pendukung klan Shinawatra yang berpengaruh dengan loyalis Kerajaan Thailand yang konservatif dan mendukung militer, kini ada kekuatan progresif yang mulai tumbuh di kalangan muda Thailand yang menyerukan posisi anti-junta dan bersumpah mengatasi kesenjangan sosial.

(nvc/ita)