Hong Kong Larang Boeing 737 MAX Terbang di Wilayah Udaranya

Hong Kong – Otoritas Hong Kong mulai hari ini menerapkan larangan pesawat-pesawat Boeing 737 MAX terbang di wilayah udaranya. Dengan ini, Hong Kong menambah panjang daftar negara-negara di dunia yang menerapkan larangan serupa menyusul kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines.

Meski perusahaan Boeing telah menyampaikan keyakinan akan keamanan pesawat mereka, namun Uni Eropa, India, Selandia Baru, China dan negara-negara lainnya telah mengandangkan Boeing 737 MAX ataupun melarang pesawat tersebut melintas di wilayah udara mereka.

Departemen Aviasi Sipil Hong Kong, CAD menyatakan, pihaknya menerapkan larangan sementara operasional Boeing 737 MAX dari, ke dan di dalam wilayah Hong Kong mulai Rabu (13/3) pukul 18.00 waktu setempat hingga pemberitahuan lebih lanjut.

“Larangan ini semata-semata merupakan langkah pencegahan untuk memastikan keselamatan penerbangan dan melindungi publik,” ujar juru bicara CAD seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (13/3/2019).
CAD menyatakan bahwa pihaknya dalam beberapa hari ini telah melakukan kontak dengan Badan Aviasi Federal Amerika Serikat dan organisasi-organisasi terkait, termasuk dua maskapai — Spice Jet India dan Globus Airlines Rusia — yang belum lama ini menggunakan 7377 MAX untuk penerbangan ke Hong Kong.

Maskapai Hong Kong sendiri, Cathay Pacific tidak memiliki pesawat 737 MAX dalam armadanya.

Pesawat Ethiopian Airlines jenis Boeing 737 MAX 8 yang membawa 157 penumpang dan awak, jatuh saat mengudara ke Nairobi, Kenya pada Minggu (11/3) waktu setempat. Pesawat dilaporkan jatuh hanya sekitar enam menit setelah lepas landas dari Addis Ababa. Otoritas Ethiopia telah menyatakan tidak ada yang selamat dalam insiden mengenaskan itu. Disebutkan juga bahwa para korban tewas berasal dari 35 negara.

Penyebab jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines ini belum sepenuhnya jelas. Namun pihak Ethiopian Airlines menyatakan pilot sempat melaporkan adanya masalah dan meminta izin untuk terbang kembali ke Addis Ababa. Pesawat itu baru saja diantarkan ke Ethiopian Airlines pada 15 November 2018. Pesawat itu diklaim telah menjalani ‘pemeriksaan awal yang teliti’ pada 4 Februari lalu.

Sebelumnya pada Oktober 2018, pesawat Boeing 737 MAX 8 milik maskapai Lion Air juga jatuh hanya sekitar 12 menit setelah lepas landas dari Jakarta. Keseluruhan penumpang dan kru pesawat yang berjumlah 189 orang. Menyusul jatuhnya pesawat Lion Air, penyelidik mengatakan bahwa pilot tampaknya berkutat dengan sistem otomatis yang dirancang untuk mencegah pesawat mandek di angkasa, fitur terbaru dalam jet tersebut.

Sistem anti-mandek tersebut berkali-kali memaksa hidung pesawat turun, meskipun pilot berusaha mengangkatnya, menurut temuan awal. Pesawat Lion Air tersebut juga baru dan kecelakaan terjadi tak lama setelah lepas landas.
(ita/ita)