FAA Disebut Tak Independen Evaluasi Keamanan Sistem MCAS Boeing 737 MAX

Washington DC – Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat atau FAA dilaporkan tidak secara independen mengevaluasi keamanan sistem MCAS pada pesawat Boeing 737 MAX, yang kini disebut berkontribusi dalam dua tragedi Lion Air JT 610 dan Ethiopian Airlines ET 302.

Diungkapkan seorang sumber yang memahami isu ini, seperti dilansir AFP, Rabu (15/5/2019), FAA sebagai bagian dari pengkajian internal, sebelumnya menyimpulkan bahwa para pejabat FAA menunda penilaian terhadap Boeing 737 MAX saat proses sertifikasi dilakukan.

Diketahui bahwa Boeing 737 MAX di-grounded secara global sejak pertengahan Maret setelah terjadi dua kecelakaan maut yang menewaskan total 346 orang. Keterkaitan antara dua kecelakaan itu ada pada sistem Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang seharusnya berfungsi menjaga pesawat untuk tidak stall.


Laporan media terkemuka AS, The Wall Street Journal, menyebut selama proses sertifikasi FAA, Boeing tidak memberitahu soal kegagalan pada sistem MCAS yang bisa memicu bencana. Hal ini tentunya bisa memicu pemeriksaan lebih teliti jika diungkapkan oleh Boeing.

FAA meloloskan sertifikasi Boeing 737 MAX pada awal tahun 2017 dan pesawat tersebut mulai beroperasi pada Mei tahun yang sama.

Dalam tragedi Lion Air pada Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines pada Maret lalu, sistem MCAS pada kedua pesawat sama-sama mengarahkan hidung pesawat ke bawah secara tajam didasarkan pada bacaan sensor yang keliru, yang membuat pilot kesulitan mengendalikan pesawat saat lepas landas.

Disebutkan sumber tersebut kepada AFP bahwa pengkajian internal FAA tidak menyimpulkan bahwa Boeing secara sengaja menyesatkan FAA dalam proses sertifikasi. FAA justru menyatakan bahwa pengkajian lanjutan tidak dibutuhkan untuk MCAS, karena FAA telah menyimpulkan sistem tersebut tidak mempengaruhi rute pesawat.

“Perubahan pada MCAS tidak memicu penilaian keamanan tambahan karena itu tidak mempengaruhi fase paling kritis dalam penerbangan, dianggap sebagai kecepatan terbang lebih tinggi. Pada kecepatan rendah, kendali lebih besar seringkali diperlukan,” sebut juru bicara FAA.

Belum ada komentar dari Boeing terkait laporan ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala FAA, Daniel Elwell, diperkirakan akan menghadapi pertanyaan sengit soal Boeing dalam audiensi Kongres AS pada Rabu (15/5) waktu setempat. Dalam audiensi sebelumnya, para anggota Kongres AS mengkritik FAA yang dianggap terlalu nyaman dengan Boeing dan mempertanyakan mengapa FAA menjadi otoritas penerbangan terakhir yang meng-grounded Boeing 737 MAX setelah negara-negara lain melakukannya.

(nvc/ita)