Eks Staf Kampanye Gugat Trump Atas Tuduhan Mencium Secara Paksa

Florida – Seorang wanita yang pernah menjadi anggota tim kampanye Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajukan gugatan hukum. Dalam gugatannya, wanita itu menuduh Trump mencium dirinya tanpa izin.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (26/2/2019), wanita bernama Alva Johnson (43) ini menyebut bahwa Trump pernah mencium dirinya tanpa izin sebelum acara kampanye di Tampa, Florida tahun 2016 lalu. Gugatan hukum ini diajukan Johnson ke Pengadilan Distrik AS di Middle District, Florida, pekan ini.

Disebutkan dalam gugatan Johnson bahwa insiden itu merupakan ‘bagian dari pola perilaku predator dan pelecehan terhadap wanita-wanita’ oleh Trump. Bantahan keras disampaikan Gedung Putih atas tuduhan itu.

“Tuduhan ini tidak masuk akal,” tegas juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders dalam pernyataannya. “Hal ini tidak pernah terjadi dan ini secara langsung bertentangan dengan keterangan banyak saksi mata yang sangat kredibel,” ujarnya.
Trump sebelumnya telah menyangkal tuduhan-tuduhan dari banyak wanita yang mengklaim dirinya diraba dan dicium secara paksa oleh Trump dalam periode beberapa tahun terakhir.

Gugatan hukum ini menyebutkan bahwa insiden itu terjadi di dalam sebuah RV atau kendaraan semacam trailer yang digunakan saat kampanye pilpres Trump di Florida pada 24 Agustus 2016. Disebutkan dalam gugatan hukum itu bahwa saat itu Trump mencengkeram tangan Johnson dan mencondongkan badannya ke depan hingga saat dekat hingga Johnson bisa merasakan hembusan napas Trump.

Johnson, menurut dokumen gugatan itu, mengalihkan kepalanya ke samping untuk menghindari ciuman Trump, namun Trump masih berhasil menciumnya di ujung bibir. Johnson mengklaim Trump melakukan itu secara sengaja karena saat itu wajah Johnson tertutup oleh topi bisbol. “Dia merasa bingung dan malu,” sebut gugatan hukum itu merujuk pada Johnson.

Sejumlah tokoh terkemuka pendukung Trump seperti mantan Jaksa Agung Florida, Pam Bondi dan Direktur Tim Kampanye Trump untuk Florida, Karen Giorno, disebut ada di dalam RV saat insiden itu terjadi. Namun kepada The Washington Post, yang pertama melaporkan gugatan hukum ini, keduanya mengaku tidak melihat apapun yang tidak pantas saat itu.

Melalui gugatan hukum ini, Johnson ingin meminta ganti rugi finansial dari Trump dan meminta pengadilan menjatuhkan perintah yang melarang Trump ‘meraba, mencium atau menyerang atau melecehkan wanita tanpa meminta izin terlebih dulu’.

Menurut dokumen gugatan hukum itu, Johnson menelepon kekasihnya dan orangtuanya usai insiden itu terjadi. Dengan berlinang air mata, Johnson menceritakan semuanya kepada kekasih dan orangtuanya. Diucapkan Johnson saat itu bahwa sesama pekerja kampanye Trump malah melontarkan candaan soal ciuman itu usai Giorno menceritakan insiden itu secara detail kepada pegawai lainnya.

Saat dihubungi via telepon pada Senin (25/2), pengacara Johnson, Hassan Zavareei, menolak bantahan Gedung Putih dan menyebut saksi mata yang disebut Gedung Putih tidak kredible. Ditambahkan Johnson bahwa kliennya yang seorang ibu dari empat anak ini tidak ingin diwawancarai media karena khawatir dengan keselamatan keluarganya.

Disebutkan juga dalam gugatan itu bahwa Johnson juga mengalami diskriminasi sebagai staf wanita dan keturunan Afrika-Amerika dalam tim kampanye Trump saat itu. Johnson menyebut dirinya mendapatkan gaji lebih kecil dari koleganya dan menjadi korban ‘perilaku rasis dan seksis’ dari rekannya.

(nvc/rna)