Diikuti 900 Juta Pemilih, Pemilu India Digelar Marathon Selama 6 Pekan!

New Delhi – Pemilihan umum terbesar di dunia dimulai hari ini di India. Sekitar 900 juta rakyat India yang memiliki hak suara atau sekitar 10 persen penduduk dunia, mengikuti pemilu raksasa ini. Tidak tanggung-tanggung, pemilu raksasa ini akan berlangsung marathon selama enam pekan hingga hasil pemungutan suara diumumkan pada 23 Mei mendatang!

Seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (11/4/2019), dikarenakan luasnya India, pemungutan suara akan diadakan dalam tujuh tahap antara 11 April hingga 19 Mei 2019, mulai dari perkebunan teh Darjeeling hingga daerah-daerah kumuh di Mumbai hingga Kepulauan Andaman dan tempat-tempat lainnya. Setiap negara bagian menggelar pemilu di hari yang berbeda. India memiliki 29 negara bagian.

Penghitungan suara akan dilakukan serempak pada 23 Mei dan hasilnya diharapkan bisa diketahui di hari yang sama. Dalam pemilu ini, ribuan kandidat anggota parlemen akan bertarung memperebutkan suara di 543 konstituen di seluruh India, yang memiliki total populasi 1,3 miliar jiwa.

Dalam tahap pertama yang digelar mulai Kamis (11/4) ini, sekitar 142 juta orang akan menggunakan hak suaranya. Tempat-tempat pemungutan suara (TPS) di negara-negara bagian timur laut India seperti Arunachal Pradesh yang berbatasan dengan China, akan dibuka paling awal, diikuti kemudian oleh negara bagian Uttar Pradesh di utara India, Jammu dan Kashmir di wilayah Himalaya dan Telangana di selatan India.

Dengan diikuti 900 juta rakyat yang memiliki hak suara atau sekitar 10 persen penduduk dunia, ini menjadikan pemilu India sebagai pemilu terbesar sepanjang sejarah manusia.

India pertama kali melaksanakan pemilu pada 1951-1952, tak lama setelah memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1947. Dalam pemilu ini, para pemilih India akan memilih wakil mereka di parlemen, yang nantinya akan menentukan apakah PM Narendra Modi akan kembali menjabat untuk periode lima tahun berikutnya.

Minggu-minggu awal kampanye dibayangi dengan serangan bom mobil pada Februari lalu yang menewaskan 40 personel paramiliter India. Serangan bom di Pulwama, distrik di selatan Kashmir itu memicu pertempuran udara dan serangan-serangan udara pertama antara India dan Pakistan dalam setengah abad terakhir.

PM Modi difavoritkan untuk kembali memenangi pemilu dan menjabat untuk kedua kalinya. “Saya akan memilih untuk Modi,” ujar Kamal Gupta, pengusaha dari Almora, sebuah distrik di negara bagian Uttarakhand.

“Dia telah menunjukkan ketegasan dan keseriusannya dalam menangani krisis India selama serangan Pulwama,” imbuhnya seperti dilansir The Guardian, Kamis (11/4/2019).

Pemilu ini dianggap sebagai referendum bagi kekuasaan PM Modi. Meski dipuja-puja para pendukungnya, PM Modi juga dikritik karena dianggap sebagai biang polarisasi antara warga mayoritas Hindu dengan 200 juta warga Muslim di India.

Modi dan partai sayap kanannya, Bharatiya Janata Party (BJP) meraih kekuasaan pada tahun 2014 dengan janji terkenal mereka “achhe din” (hari-hari baik), dan menjadi partai pertama yang memenangkan mayoritas absolut dalam kurun waktu 30 tahun.

(ita/ita)