Dalang Bom Sri Lanka Bujuk Para Pengebom Bunuh Diri via Medsos

Colombo – Dalang utama serangan bom di Sri Lanka, Zahran, memanfaatkan media sosial (medsos) dan chatroom untuk membujuk enam pria muda agar mengorbankan nyawa mereka. Zahran diyakini meradikalisasi para pengebom bunuh diri via medsos selama berbulan-bulan, sebelum serangan bom terjadi.

Rentetan bom pada 21 April lalu yang menewaskan 257 orang sangat melukai komunitas muslim Sri Lanka yang menjadi minoritas, terlebih setelah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab. Mereka pun berupaya untuk menyelidiki latar belakang Zahran, ulama radikal setempat yang disebut sebagai dalang utama serangan bom itu, dan anak buahnya. Zahran dan delapan pengebom lainnya tewas dalam serangan mematikan itu.

Dituturkan sumber kepolisian dan tokoh muslim seperti, seperti dilansir AFP, Jumat (2/5/2019), bahwa Zahran membujuk Ilham dan Inshaf Ibrahim, dua pengebom kakak-beradik yang berasal dari keluarga muslim kaya di Sri Lanka, untuk bergabung dengannya dan memanfaatkan kekayaan mereka untuk mendanai serangan itu.

“Kami menduga kakak-beradik itu menggunakan uang mereka dari bisnis rempah-rempah untuk mendanai pengeboman,” ungkap salah satu penyidik kepolisian Sri Lanka yang enggan disebut identitasnya.

“Tampaknya indoktrinasi dilakukan via internet — Facebook dan YouTube,” imbuh penyidik kepolisian tersebut.

Para tetangga kakak-beradik Ibrahim menyebut keduanya tertutup, namun dipandang sebagai muslim yang taat. Menurut tokoh muslim setempat, kakak-beradik Ibrahim bukanlah anggota aktif dari militan lokal, Jamaah Tauhid Nasional (NTJ), yang didirikan Zahran.

“Kami meyakini Zahran meradikalisasi orang-orang menggunakan Facebook. Khususnya setahun terakhir, saat dia secara terbuka menyerukan pembunuhan non-muslim,” sebut R Abdul Razik selaku pemimpin kelompok moderat Jamaah Tauhid Ceylon (CTJ).

Para penyidik dan pemimpin komunitas muslim setempat meyakini kelompok Zahran itu juga menggunakan layanan pesan privat pada media sosial untuk saling berkomunikasi tanpa terdeteksi otoritas Sri Lanka.

CTJ dan badan ulama Islam terbesar di Sri Lanka, All Ceylon Jamiyyathul Ulama, telah memperingatkan otoritas keamanan soal Zahran dan kelompoknya. Namun menurut mereka, peringatan itu gagal mendapat perhatian serius dari otoritas Sri Lanka.

Pemerintah Sri Lanka yang diketahui telah mendapatkan peringatan dari intelijen asing soal rencana serangan itu, namun peringatan itu tidak disebarluaskan kepada jajaran menteri dan otoritas lainnya.

“Kami meminta badan-badan intelijen untuk menghapus akun Facebook Zahran karena dia mengotori pikiran warga muslim Sri Lanka. Kami diberitahu bahwa lebih baik membiarkannya memiliki akun agar otoritas setempat bisa mengawasi apa yang sedang dia lakukan,” tutur Razik.

Kelompok moderat lainnya, Jamaah Tauhid Sri Lanka (SLTJ), menyebut pihaknya bahkan menggelar konferensi pers tahun 2017 lalu untuk memperingatkan otoritas Sri Lanka soal Zahran, namun tidak ada tindakan yang diambil. “Zahran mengindoktrinasi orang-orang menggunakan media sosial. Dia melontarkan propaganda ala ISIS yang terkadang menarik para pengebom,” sebut juru bicara SLTJ, Thawseef Ahamed, kepada AFP.

Nama-nama sembilan pelaku serangan bom saat Paskah lalu baru dirilis otoritas Sri Lanka pada pekan ini. Mereka terdiri atas Ilham Ibrahim yang meledakkan diri di Hotel Shangri-La, Inshaf Ibrahim meledakkan diri di Cinnamon Grand Hotel dan Zahran sebagai pemimpin kelompok, tewas dalam ledakan di Hotel Shangri-La.

Istri Ilham Ibrahim, Fathima, yang sedang hamil disebut tewas meledakkan diri saat polisi menggerebek kediaman keluarga Ibahim di Colombo. Ledakan itu menewaskan dua anak Fathima dan tiga polisi setempat.

Mohamed Azzam Mubarak Mohamed yang meledakkan diri di Hotel Kingsbury di Colombo. Ada juga Abdul Latheef yang seharusnya meledakkan diri di sebuah hotel mewah lainnya, namun gagal dan mengalihkan target ke sebuah motel kecil. Tiga pengebom lainnya disebut bernama Ahmed Muaz, Mohamed Hashthun dan Mohamed Nasser Mohamed Asad yang meledakkan diri di Gereja St Anthony, Gereja St Sebastian dan Gereja Zion.

(nvc/dhn)