Curi Dana Bank Sentral Bangladesh, Eks Bankir Filipina Didenda Rp 1,5 T

Manila – Seorang mantan bankir Filipina divonis puluhan tahun penjara dalam kasus pencurian siber berskala besar yang melibatkan pencurian US$ 81 juta (Rp 1,1 triliun) dari Bank Sentral Bangladesh. Mantan bankir ini juga dihukum denda sebesar US$ 109 juta (Rp 1,5 triliun).

Seperti dilansir AFP dan Reuters, Kamis (10/1/2019), kasus pencurian siber atau cyberheist berskala besar ini terjadi pada Februari 2016 lalu dan melibatkan para peretas misterius yang berhasil membobol sejumlah besar dana milik Bank Sentral Bangladesh.

Dalam kasus ini, sejumlah peretas misterius berhasil membobol US$ 81 juta dari rekening milik Bank Sentral Bangladesh di Bank Sentral Amerika Serikat cabang New York. Para pelaku menggunakan perintah palsu pada SWIFT payments system, sistem pembayaran dan transfer internasional, untuk mencuri dana tersebut.


Dana itu ditransfer ke sejumlah rekening pada salah satu cabang bank Filipina bernama Rizal Commercial Banking Corp (RCBC) di Manila. Dari sana, dana itu dengan cepat ditarik dan menyebar hingga akhirnya menghilang ke dalam industri kasino Filipina.
Saat kasus ini terjadi, kasino-kasino di Filipina terbebas dari aturan hukum yang bertujuan mencegah pencucian uang. Sejauh ini baru US$ 15 juta yang berhasil didapatkan kembali dari operator junket Manila, semacam fasilitator untuk marketing kasino bagi para VIP atau tamu istimewa.

Dalam persidangan pada Kamis (10/1) waktu setempat, wanita bernama Maia Deguito yang menjabat sebagai Manajer RCBC Cabang Manila saat kasus itu terjadi, dinyatakan bersalah atas delapan dakwaan pencucian uang. Masing-masing dakwaan memiliki ancaman hukuman empat tahun penjara. Dengan demikian, Deguito menerima hukuman antara 32-56 tahun penjara. Dia juga diperintahkan membayar denda sebesar US$ 109 juta.

Pengadilan menyatakan Deguito terbukti telah memfasilitasi dan berkoordinasi dan mendukung pelaksanaan dan penerapan transaksi-transaksi bak yang ilegal. “Pernyataannya dalam sidang terbuka bahwa dia tidak ada kaitannya dengan transaksi-transaksi ini sungguh kebohongan total dan komprehensif,” sebut pengadilan setempat dalam putusan setebal 26 halaman.

Atas vonis itu, Deguito berniat mengajukan banding. Dia tidak langsung mendekam di penjara karena telah membayar jaminan sehingga bisa tetap bebas hingga putusan kasusnya benar-benar inkracht.

Deguito menjadi satu-satunya orang yang diadili dalam kasus yang menarik perhatian internasional ini. Pengacara Deguito, Demetrio Custodio, menuturkan kepada AFP bahwa kliennya dijadikan ‘kambing hitam’. “Dia tidak bisa melakukan ini sendirian. Sebuah bank sebesar RCBC tidak akan membiarkan seorang pegawai bank rendahan merencanakan ini, jadi ada orang lain yang terlibat dalam kasus ini,” tegas Custodio.

Diketahui bahwa mantan bendaharawan RCBC dan lima pegawai bank tempat uang curian itu ditarik, tengah menghadapi sejumlah dakwaan pencucian uang. Departemen Kehakiman Filipina menyatakan kasus ini belum ditutup, namun mereka tidak menjelaskan sejauh mana penyelidikan yang dilakukan.

Dalam pernyataannya, RCBC menyebut pihaknya sebagai ‘korban’ dalam kasus ini. RCBC menyebut Deguito sebagai pegawai ‘liar’. “Vonis terhadap Deguito konsisten dengan posisi bank sebagai korban dalam situasi ini dan bahwa Deguito adalah pegawai liar,” sebut juru bicara RCBC, Thea Daep.

Terkait kasus ini, Bank Sentral Filipina menjatuhkan sanksi denda sebesar 1 miliar Peso terhadap RCBC pada Agustus 2016 atas kegagalannya mencegah pergerakan yang yang dicuri.

(nvc/bag)