China Apresiasi ‘Dukungan’ Kazakhstan untuk Operasi di Xinjiang

Beijing – Pemerintah China berterima kasih kepada Kazakhstan karena mendukung operasi di wilayah Xinjiang. Padahal selama ini China dituduh melakukan pelanggaran HAM terhadap kelompok-kelompok minoritas, termasuk etnis Kazakh, di wilayah itu.

Menurut laporan panel Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), China saat ini menahan 1 juta warga etnis muslim Uighur dan kelompok minoritas muslim lainnya di kamp-kamp pengasingan di Xinjiang yang dikawal ketat.

Otoritas China telah membantah seluruh tuduhan itu dan menegaskan pihaknya menjalankan pusat-pusat pelatihan pendidikan atau kejuruan sebagai bagian dari operasi melawan ekstremisme Islam dan separatisme di Xinjiang.


Seperti dilansir AFP, Jumat (29/4/2019), ucapan terima kasih untuk Kazakhstan itu disampaikan saat Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi bertemu dengan Menlu Kazakhstan Beibut Atamkulov yang sedang berkunjung ke Beijing.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri China menyatakan dalam pertemuan itu, Atamkulov menyebut negaranya ‘memahami dan mendukung langkah-langkah yang diambil oleh wilayah Xinjiang, China’ untuk melawan terorisme, separatisme dan ekstremisme. Atas ungkapan itu, China lantas menyampaikan apresiasi.

“Kami mengapresiasi pemahaman dan dukungan pemerintahan Kazakhstan terhadap posisi China,” ucap Wang kepada Atamkulov seperti disampaikan dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri China.

“Kita tidak akan pernah mengizinkan siapa saja, kekuatan apapun, untuk merusak persahabatan dan rasa saling percaya antara China-Kazakhstan,” tegasnya.

Kementerian Luar Negeri Kazakhstan tidak menyebut soal Xinjiang dalam pernyataan soal kunjungan Atamkulov ke China. Namun disebutkan bahwa dua diplomat utama China-Kazakhstan membahas ‘isu soal situasi dengan etnis Kazakh yang tinggal di sana (China)’.

“Kedua pihak menekankan kepentingan bersama dalam mengatasi isu-isu yang muncul melalui hubungan kerja (antara kedua Kementerian Luar Negeri),” sebut Kementerian Luar Negeri Kazakhstan dalam pernyataannya.

Disebutkan juga bahwa sebuah kesepakatan telah tercapai ‘soal revitalisasi layanan konsuler’ kedua negara.

Kazakhstan yang kaya minyak dan berbagi wilayah perbatasan dengan Xinjiang di China ini, diketahui menghadapi masa-masa sulit setelah China yang menjadi mitra dagang utamanya mulai memaksa warga etnis Kazakh ke kamp pengasingan di Xinjiang dalam kebijakan anti-ekstremisme.

Salah satu mantan tahanan di Xinjiang, yang berkewarganegaraan Kazakhstan, menuturkan kepada AFP bahwa tujuan utama kamp-kamp yang didirikan China adalah melucuti keyakinan religius para tahanannya.

(nvc/rvk)