Berkat Rak Buku Berisi Alquran, Pria Ini Lolos dari Teror New Zealand

Christchurch – Seorang sopir taksi menceritakan bagaimana dirinya bisa lolos dari maut saat berlangsung aksi teror penembakan di masjid New Zealand (Selandia Baru).

Pria bernama Abdul Kadir Ababora tersebut bersembunyi di bawah sebuah rak buru tempat meletakkan Alquran. Entah bagaimana, hal itu membuatnya lolos dari penembakan brutal yang menewaskan 50 orang.

“Itu benar-benar ajaib,” ujarnya seperti dikutip kantor berita AFP, Senin (18/3/2019). “Ketika saya bangkit, di bagian kiri dan kanan saya hanya ada jasad-jasad,” tuturnya.


Seperti halnya banyak jemaah lainnya yang melakukan salat Jumat di Masjid Al-Noor di Christchurch, Abora datang ke Selandia Baru untuk meninggalkan negaranya yang miskin demi mencari kemakmuran dan kedamaian. Pria berumur 48 tahun itu meninggalkan Ethiopia dan tiba di Selandia Baru pada tahun 2010. Dua pekan lalu, dia dan istrinya menyambut kelahiran anak ketiga mereka.

Namun pada Jumat (15/3) waktu setempat, Brenton Tarrant asal Australia tiba-tiba muncul di Masjid Al-Noor dan menembak membabi-buta para jemaah yang sedang menunaikan salat Jumat.

Ababora mengatakan, imam masjid baru saja memulai khutbahnya ketika tembakan terdengar di luar masjid. Tak lama setelah itu, Tarrant pun masuk ke dalam masjid dan langsung menembak tanpa kenal ampun.

Ababora mengatakan, dirinya langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dan berhasil memasukkan badannya ke bawah rak buku tempat meletakkan Alquran. “Saya berpura-pura seolah-olah saya sudah mati,” tuturnya.

Ababora mengatakan, pelaku terus melepaskan peluru dan menembak secara acak. Bahkan Ababora bisa merasakan desingan peluru melewati tubuhnya. “Saya menunggu momen saya, ketika tiap detik tembakan dilepas, saya berkata ‘Ini untuk saya. Ini untuk saya.’ Dan saya kehilangan harapan,” kata Ababora. Dia pun mulai berdoa dan memikirkan keluarganya.

Ketika akhirnya hujan peluru berhenti, Ababora mendapati pemandangan mengerikan di sekitarnya. Banyak orang telah tewas dan darah dimana-mana.

“Ada darah di mana-mana,” tuturnya seraya mengatakan bahwa New Zealand yang selama ini dikenal aman, kini telah berubah. “New Zealand tidak aman lagi,” cetusnya. “Ini brutal,” tandasnya.
(ita/ita)