Belanda Larang Pendeta AS yang Anti-Gay Masuk Wilayahnya

Amsterdam – Pemerintah Belanda melarang seorang pendeta Amerika Serikat (AS) yang anti-gay dan menyangkal Holocaust untuk masuk ke wilayahnya. Pendeta AS yang kontroversial itu juga dilarang mengunjungi 26 negara yang masuk dalam zona Schengen.

Seperti dilansir AFP, Kamis (2/5/2019), rencana kunjungan pendeta AS bernama Steven Anderson ke Belanda telah ditolak. Wakil Menteri Kehakiman Belanda, Mark Harbers, menekankan bahwa pendeta Anderson tidak akan diperbolehkan berkunjung ke Amsterdam pada 23 Mei mendatang untuk menyampaikan khotbah.

“Saya telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah masuknya orang ini ke zona Schengen,” tulis Harbers dalam surat kepada parlemen Belanda.


Surat tersebut menjawab pertanyaan anggota-anggota parlemen Belanda soal rencana kunjungan pendeta Anderson. Asosiasi hak kaum gay di Belanda, COC, juga meminta pemerintah Belanda untuk melarang kunjungan pendeta Anderson.
Harbers menyatakan bahwa, jika Anderson tetap mengunjungi Belanda meskipun ada larangan, maka ‘dia akan dianggap sebagai ancaman untuk ketertiban umum’.

“Ini akan mengarah pada kesimpulan bahwa dia (Anderson-red) tidak punya hak tinggal di negara ini,” sebut Harbers.

“Di Belanda, ada banyak ruang untuk pandangan, sistem nilai dan gaya hidup yang beragam,” tegasnya. “Kebebasan kita bukanlah izin untuk perilaku tidak toleran yang membatasi kebebasan lainnya,” imbuh Harber.

“Kabinet akan mengambil tindakan tegas terhadap penceramah ekstremis yang melontarkan gagasan yang membatasi kebebasan orang lain dan bahkan menghasut kebencian dan kekerasan,” ucapnya lagi.

Di AS, pendeta Anderson kerap memicu kontroversi. Terutama melalui gerejanya yang bernama Faithful Word Baptist Church dan berlokasi di Arizona. Sebagai seorang penyangkal Holocaust — genosida 6 juta penganut Yahudi di Eropa selama Perang Dunia II, pendeta Anderson pernah mendoakan kematian mantan Presiden AS Barack Obama tahun 2009 lalu. Hal itu dilakukan karena dia tidak sepakat dengan posisi pro-pilihan dalam isu aborsi yang dipegang Obama.

Tidak hanya itu, pendeta Anderson pernah menyebut para korban teror di Bataclan, Paris pada November 2015 sebagai ‘pemuja setan’. Setelah penembakan brutal di kelab malam gay di Orlando tahun 2016, pendeta Anderson melontarkan komentar berbunyi: “Setidaknya berkurang 50 paedofil di dunia ini.”

Kemudian dalam wawancara dengan televisi lokal NOS, pendeta Anderson menegaskan dirinya bukan akan berkhotbah soal homoseksual di Amsterdam. “Saya telah menyampaikan 156 khotbah dalam setahun, tapi media memfokuskan perhatian pada hal ini,” ucapnya dalam wawancara via telepon.

Namun dia menambahkan: “Saya meyakini bahwa homoseksual harus dieksekusi. Disebutkan seperti itu dalam Alkitab.”

Sebelum dilarang oleh Belanda, pendeta Anderson sudah dilarang oleh beberapa negara lainnya, termasuk Afrika Selatan dan Botswana.

(nvc/dhn)