Bakar Foto Pejabat Saat Aksi Demo, 7 Mahasiswa Myanmar Dibui

Yangon – Tujuh mahasiswa Myanmar dijatuhi hukuman penjara tiga bulan dengan kerja paksa karena membakar foto-foto para pejabat Myanmar saat aksi protes soal keamanan kampus.

Mereka yang dipenjara itu termasuk di antara puluhan orang yang melakukan aksi demo pada 28 Desember 2018 lalu untuk menuntut peningkatan keamanan di universitas di Mandalay di Myanmar tengah usai pembunuhan seorang mahasiswa di dekat kampus tersebut.

Dalam aksinya ketika itu, para demonstran membakar peti mati dari kertas dan foto-foto pemimpin kota Mandalay, menteri keamanan dan dalam negeri Myanmar, serta pimpinan universitas. Mereka menuntut adanya peningkatan keamanan di sekitar kampus. Saat aksi demo tersebut, tiga orang ditangkap saat aksi berlangsung dan empat orang lainnya ditangkap beberapa hari kemudian, saat mereka kembali berdemo untuk menuntut pembebasan ketiga rekan mereka yang ditahan.

Seorang aktivis mahasiswi, Ei Mon Khin mengatakan, dalam persidangan pada Rabu (13/2) ini, ketujuh mahasiswa tersebut masing-masing dihukum penjara tiga bulan dengan kerja paksa karena melakukan aksi protes tanpa izin dan pembakaran.

“Mereka akan dibawa ke penjara Obo di Mandalay nanti,” ujar mahasiswi tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (13/2/2019). Disebutkan bahwa hukuman penjara tersebut dikurangi masa penahanan sehingga berarti mereka masih akan mendekam di penjara selama 1,5 bulan lagi.

Sebelumnya pada Selasa (12/2) waktu setempat, aparat kepolisian melepaskan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan aksi demo yang dilakukan ribuan orang di negara bagian Kayah. Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari aksi-aksi serupa untuk memprotes patung Aung San, ayah dari pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Aung San banyak dianggap oleh etnis Bamar yang merupakan penduduk mayoritas di Myanmar, sebagai pahlawan kemerdekaan, namun dikritik oleh banyak kelompok etnis minoritas, yang memandang dia sebagai simbol dominasi Bamar.
(ita/ita)