AS Yakin Militan di Balik Bom Sri Lanka Rencanakan Serangan Berikutnya

ColomboPemerintah Amerika Serikat (AS) meyakini sejumlah anggota militan yang ada di balik rentetan bom saat perayaan Paskah di Sri Lanka masih berkeliaran dan bisa jadi sedang merencanakan serangan-serangan lainnya. AS menyebut ancaman keamanan di Sri Lanka masih sangat nyata.

“Kemajuan luar biasa telah dicapai dalam upaya menangkap pihak-pihak yang merencanakan serangan, tapi saya pikir semuanya belum berakhir,” ujar Duta Besar AS untuk Sri Lanka, Alaina Teplitz, dalam wawancara dengan Reuters, Selasa (30/4/2019).

“Kami meyakini masih ada perencanaan aktif yang sedang berlangsung (untuk serangan lain),” imbuhnya mengingatkan.


Otoritas Sri Lanka gencar melakukan penggerebekan dan perburuan tersangka yang diduga terkait rentetan bom Paskah, juga terlibat aktivitas militan radikal. Sejauh ini, lebih dari 100 orang, termasuk sejumlah warga Suriah dan Mesir, telah ditangkap untuk diinterogasi lebih lanjut.

Dua militan lokal, Jamaah Tauhid Nasional (NTJ) dan Jammiyathul Millathu Ibrahim (JMI), diyakini sebagai pelaku serangan bom pada Minggu (21/4) lalu yang menewaskan 253 orang, meskipun kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab.

“Keamanan akan tetap ketat untuk beberapa hari karena militer dan polisi masih melacak para tersangka,” tutur pejabat intelijen senior Kepolisian Sri Lanka.

Seorang sumber pemerintahan Sri Lanka lainnya menuturkan kepada Reuters bahwa sebuah dokumen yang beredar mengindikasikan rencana serangan di Sri Lanka menjelang Ramadan yang akan dimulai 6 Mei mendatang. Dokumen itu disebut beredar di kalangan otoritas keamanan setempat.

Dokumen itu disebut menginstruksikan seluruh personel kepolisian dan pasukan keamanan di Sri Lanka untuk tetap dalam kondisi waspada tinggi.

Dituturkan Teplitz kepada Reuters, risiko serangan lain di Sri Lanka, usai rentetan bom Paskah, sangatlah nyata. “Kami tentu memiliki alasan untuk menyakini bahwa kelompok penyerang aktif belum sepenuhnya menjadi tidak aktif,” sebutnya.

Diketahui bahwa Biro Investigasi Federal AS atau FBI membantu penyelidikan yang sedang dilakukan otoritas Sri Lanka. Teplitz menolak untuk membahas soal itu.

(nvc/ita)