AS Ungkap Dakwaan Pidana untuk Bos Huawei yang Ditahan di Kanada

Washington DC – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mengungkapkan dakwaan-dakwaan yang dijeratkan pada petinggi Huawei, Meng Wanzhou. Mulai dari berupaya mencuri rahasia perdagangan, menyesatkan bank soal aktivitas bisnis dan menghindari sanksi-sanksi AS terhadap Iran.

Dakwaan-dakwaan itu diungkapkan ke publik sebelum digelarnya perundingan perdagangan antara AS dan China di Washington DC. Seperti dilansir Associated Press dan CNN, Selasa (29/1/2019), setidaknya baru ada dua dakwaan pidana yang diungkapkan otoritas AS terkait Huawei.

Dakwaan pertama menuduh Huawei berupaya mencuri rahasia-rahasia perdagangan dari T-Mobile dan menjanjikan bonus bagi setiap karyawan yang berhasil mengumpulkan informasi rahasia soal kompetitor. Dakwaan kedua menuduh Huawei melakukan upaya untuk menghindari sanksi-sanksi AS terhadap Iran.


Pejabat eksekutif Huawei yang didakwa oleh AS adalah Meng Wanzhou yang menjabat sebagai Chief Financial Officer (CFO) pada Huawei Technologies Co Ltd. Meng ditangkap di Vancouver oleh Kanada pada Desember 2018, atas permintaan AS. Saat ini, otoritas AS tengah berupaya mengekstradisi Meng ke AS.
Belum ada komentar dari pihak Meng maupun dari Huawei terkait dakwaan-dakwaan tersebut. Diketahui bahwa Meng yang bebas setelah membayar jaminan sebesar CAN$ 10 juta, saat ini tinggal di sebuah rumah mewah di Vancouver sembari menunggu proses persidangan ekstradisinya.

Secara detail, dakwaan-dakwaan dari jaksa AS menyatakan bahwa Huawei menggunakan sebuah shell company di Hong Kong untuk menjual perlengkapan di Iran, yang jelas melanggar sanksi-sanksi AS. Huawei juga didakwa melakukan serangkaian aktivitas bisnis di Iran melalui sebuah perusahaan Hong Kong bernama Skycom. Tidak hanya itu, Huawei juga didakwa dengan sengaja menyesatkan sejumlah bank AS agar mempercayai dua perusahaan itu terpisah.

Departemen Kehakiman AS mengungkapkan bahwa sedikitnya ada 10 dakwaan pidana yang dijeratkan pada Huawei oleh jaksa-jaksa di negara bagian Washington dan 13 dakwaan pidana terpisah dari jaksa-jaksa di Distrik Timur New York.

Salah satu dakwaan yang diungkapkan pada Senin (28/1) waktu setempat adalah Huawei dituduh berusaha mencuri sejumlah rahasia perdagangan AS, termasuk teknologi di balik perlengkapan robotik yang digunakan T-Mobile untuk menguji smartphone buatan mereka.

Kasus itu dimulai tahun 2012, ketika Huawei merancang rencana untuk mencuri informasi soal robot milik T-Mobile bernama ‘Tappy‘. Para insinyur Huawei disebut secara diam-diam mengambil foto robot itu, mengukur dan bahkan berusaha mencuri potongan robot itu dari laboratorium T-Mobile di Washington.

“Hari ini kita mengumumkan bahwa kita menjeratkan dakwaan-dakwaan pidana terhadap raksasa telekomunikasi Huawei dan asosiasinya untuk nyaris dua lusin tindak kriminal,” ucap pelaksana tugas Jaksa Agung AS, Matthew Whitaker, dalam pernyataannya.

Direktur FBI, Christopher Wray, dalam konferensi pers menyebut Huawei ‘bergantung pada praktik-praktik bisnis yang tidak jujur yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi yang membuat perusahaan-perusahaan Amerika dan Amerika Serikat berkembang’.

“Kemakmuran yang mengarahkan keamanan ekonomi kita jelas berkaitan dengan keamanan nasional kita. Dan pengaruh besar yang dipegang pemerintah China terhadap korporasi-korporasi China seperti Huawei memberikan ancaman untuk keduanya,” tegas Wray.

(nvc/ita)