Arab Saudi Puji AS yang Tetapkan Garda Revolusi Iran Organisasi Teroris

RiyadhArab Saudi memuji dan menyambut baik langkah Amerika Serikat (AS) yang baru saja menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris. Diketahui bahwa selama ini Saudi dan Iran selalu bersitegang.

“Keputusan AS (mengikuti) tuntutan berulang Kerajaan (Saudi) terhadap komunitas internasional untuk mengatasi isu terorisme yang didukung Iran,” kata sumber Kementerian Luar Negeri seperti dikutip kantor berita Saudi Press Agency (SPA) dan dilansir AFP, Selasa (9/4/2019).

Sumber Kementerian Luar Negeri Saudi itu menyebut langkah AS sebagai ‘langkah praktis dan serius’ dalam membatasi campur tangan Iran di kawasan Timur Tengah.

Langkah AS yang diumumkan pada Senin (8/4) waktu setempat itu menandai momen pertama AS melabeli militer negara lain sebagai kelompok teroris.

Penetapan itu secara efektif berarti, siapa saja yang berhubungan dengan Korps Garda Revolusi Iran bisa terancam dipenjara di AS.

Dengan melabeli Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris, maka AS bisa menerapkan sanksi lanjutan, khususnya terhadap sektor bisnis mengingat keterlibatan Garda Revolusi dalam perekonomian Iran.

Dalam pernyataannya, Presiden AS Donald Trump menyebut Garda Revolusi Iran yang memiliki sekitar 125 ribu personel ini sebagai ‘sarana utama’ bagi Iran ‘dalam mengarahkan dan menerapkan kampanye teroris globalnya’.

Iran dengan cepat membalas langkah AS dengan menetapkan Komando Pusat AS (CENTCOM) sebagai organisasi terorisme. Penetapan ini berdampak pada tentara-tentara AS yang ditugaskan di kawasan Timur Tengah, termasuk Mesir di Afrika dan kawasan Asia Tengah, khususnya Afghanistan dan Irak.

Hubungan Saudi yang didominasi Sunni dan Iran yang didominasi Syiah telah sejak lama tegang. Kedua negara selalu berada di dua kubu berbeda dalam sejumlah konflik yang pecah di Timur Tengah. Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran sejak tahun 2016 lalu. Hal itu dilakukan untuk memprotes aksi penyerbuan misi diplomatik Saudi oleh demonstran Iran yang marah atas eksekusi mati seorang ulama Syiah terkemuka di Saudi.

(nvc/ita)