Alami Infeksi Dada, Dalai Lama Diterbangkan ke Rumah Sakit India

New Delhi – Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama dilarikan ke sebuah rumah sakit di New Delhi, India setelah mengalami infeksi di bagian dada. Biksu Buddha berusia 83 tahun itu dilaporkan dalam kondisi stabil.

Seperti dilansir Reuters dan CNN, Rabu (10/4/2019), Dalai Lama yang pergi ke India sejak awal tahun 1959 setelah perlawanan gagal terhadap kepemimpinan China, tinggal dalam pengasingan di kota Dharamshala, India bagian utara.

“Pagi hari ini, Yang Mulia merasa tidak nyaman dan dia diterbangkan ke Delhi untuk check-up,” sebut Tensin Taklha, sekretaris pribadi Dalai Lama, kepada Reuters.

“Para dokter telah mendiagnosisnya dengan infeksi dada dan dia sedang dirawat untuk itu. Kondisinya sekarang stabil. Dia akan dirawat selama dua atau tiga hari di sini,” imbuhnya.

Bulan lalu menandai 60 tahun sejak Dalai Lama meninggalkan Tibet untuk mengasingkan diri ke India. Sejak saat itu, Dalai Lama — yang oleh jutaan warga Buddha di Tibet dihormati sebagai dewa yang hidup — menjadikan India sebagai rumahnya.

Secara resmi, India menyebut Dalai Lama sebagai ‘tamu paling terpandang dan kehormatan’. Dari tempat pengasingannya di India, Dalai Lama bepergian ke seluruh dunia, menjadi ikon baik secara budaya maupun secara religius. Tahun lalu, Dalai Lama mulai mengurangi jadwal sibuknya, dengan merujuk pada usia dan kelelahan yang dirasakannya.

Gelar Dalai Lama, secara tradisional, merupakan gelar yang dianugerahkan kepada pemimpin tertinggi di antara umat Buddha Tibet. Gelar tersebut diberikan kepada sosok yang diyakini merupakan reinkarnasi dari guru religius terhormat. Tidak diketahui pasti siapa yang akan menggantikan Dalai Lama jika sesuatu terjadi padanya.

Dalam wawancara terbaru dengan Reuters saat ditanya soal apa yang mungkin terjadi setelah dirinya meninggal dunia, Dalai Lama mengantisipasi potensi upaya China untuk memunculkan pengganti palsu di kalangan Buddha Tibet.

“Di masa mendatang, bisa saja Anda melihat dua Dalai Lama muncul, satu dari sini, di sebuah negara bebas, satu lagi dipilih oleh China, dan tidak ada yang percaya, tidak ada yang menghormatinya. Jadi itu masalah tambahan dari China. Itu mungkin saja, itu bisa terjadi,” ucapnya.

Diketahui bahwa China yang menguasai Tibet tahun 1950, menyebut Dalai Lama yang pernah meraih Nobel Perdamaian itu sebagai ‘separatis berbahaya’.

(nvc/ita)