Al-Azhar Mesir Kutuk Bom Paskah di Sri Lanka sebagai Serangan Teroris

Kairo – Al-Azhar, institusi religius terkemuka di Mesir, mengutuk serentetan ledakan bom yang mengguncang Sri Lanka saat perayaan Paskah dan menewaskan sedikitnya 290 orang. Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmed al-Tayeb, menyebut rentetan ledakan bom itu sebagai serangan teroris.

“Saya tidak bisa membayangkan seorang manusia bisa menargetkan ketenangan saat hari perayaan mereka,” ucap Sheikh Ahmed al-Tayeb dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Senin (22/4/2019).

“Watak sesat para teroris ini bertentangan dengan ajaran seluruh agama,” tegasnya dalam pernyataan melalui akun Twitter resmi institusi Al-Azhar.


Kepolisian Sri Lanka menyatakan bahwa jumlah korban tewas saat ini bertambah menjadi 290 orang dan jumlah korban luka-luka bertambah menjadi 500 orang. Terdapat lebih dari 30 warga negara asing (WNA) dari delapan negara yang turut menjadi korban tewas.

“Saya berdoa agar Tuhan memberikan ketabahan untuk para keluarga korban tewas dan memberikan kesembuhan pada para korban luka,” imbuh Al-Tayeb.

Otoritas setempat menyatakan sedikitnya ada delapan ledakan bom yang mengguncang berbagai wilayah Sri Lanka pada Minggu (21/4) waktu setempat. Ada tiga gereja, empat hotel mewah dan satu rumah yang menjadi lokasi ledakan bom, yang sebagian besar dipicu oleh pengebom bunuh diri itu.

Terkait rentetan ledakan bom mematikan itu, Kepolisian Sri Lanka saat ini telah menangkap sekitar 24 tersangka. Para tersangka dilaporkan berkewarganegaraan Sri Lanka, dengan kebanyakan ditangkap di Colombo dan wilayah sekitarnya.

Sejauh ini belum ada kelompok maupun pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan-ledakan bom ini. Para penyidik akan memeriksa apakah ada keterkaitan ‘jaringan luar negeri’ pada mereka yang ditangkap.

Namun diketahui bahwa aparat keamanan Sri Lanka sebenarnya telah mendapatkan informasi dan peringatan soal rencana serangan bom bunuh diri di negara tersebut. Peringatan itu dilaporkan telah diterima polisi sekitar 10 hari sebelumnya dan disebarkan kepada otoritas terkait di Sri Lanka.

Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wikremesinghe, telah memerintahkan penyelidikan untuk mencari tahu mengapa dinas intelijen Sri Lanka gagal mengambil tindakan atas peringatan tersebut. “Kita harus mencari tahu mengapa langkah-langkah pencegahan tidak ditempuh. Baik saya maupun para menteri tidak diinformasikan,” ucapnya.

(nvc/ita)