Aksi Pendeta Afrika ‘Hidupkan’ Orang Mati Bikin Marah Federasi Gereja

Cape Town – Aksi pendeta Alph Lukau yang mengklaim mampu ‘menghidupkan’ orang mati memicu kemarahan federasi gereja-gereja di Afrika Selatan (Afsel). Federasi menyebut ada yang salah dalam sektor keagamaan di Afrika dan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Seperti dilansir media lokal Afsel, Eyewitness News, Rabu (27/2/2019), Rhema Family Churches (RFC) dan International Federation of Christian Churches (IFCC) merilis pernyataan usai video yang menampilkan aks pendeta Lukau ‘menghidupkan’ orang mati menjadi viral. Dalam pernyataan tersebut, RFC dan IFCC mengakui mereka merasa malu atas temuan penyelidikan Komisi CRL soal ‘Komersialisasi Agama dan Penyalahgunaan Sistem Kepercayaan Umat’.

“Kita telah melihat eksploitasi orang-orang, dan penganiayaan seksual dan emosional dari orang-orang, semua ini dan banyak hal lainnya telah menodai citra gereja dan menempatkan kita dalam sorotan yang sangat buruk,” demikian pernyataan RFC dan IFCC.


Kedua federasi gereja itu mengecam perilaku pendeta Lukau dan menyebutnya sebagai penyalahgunaan kepercayaan jemaat secara gamblang.

“Klaim oleh pendeta ini (Lukau-red) telah dibuktikan sebagai sebuah kebohongan oleh pihak rumah duka yang terlibat. Ini bukanlah ajaran Yesus Kristus yang kita khotbahkan,” tegas RFC dan IFCC.

Baik RFC maupun IFCC menjauhkan diri dari aksi yang disebut sebagai ‘aksi tak tahu malu yang dilakukan atas nama Iman Kristen dan menggunakan Nama Kristus dengan sia-sia’. Tak hanya itu, kedua federasi gereja itu juga mengimbau jemaat untuk berhenti menjadi sosok yang mudah tertipu dan langsung percaya dengan apapun yang tampak seperti mukjizat dan mengekspose diri mereka kepada para penipu.

Momen saat pendeta Lukau 'menghidupkan' orang matiMomen saat pendeta Lukau ‘menghidupkan’ orang mati Foto: Alph Lukau/Facebook via BBC

Seperti dilansir media lokal The Sowetan, tiga rumah duka telah melaporkan si pendeta beserta gerejanya ke polisi. Ketiga rumah duka bernama Kingdom Blue, Kings & Queens Funeral Services dan Black Phoenix itu menyebut mereka telah ditipu sehingga seolah-olah terlibat dalam aksi si pendeta.

Advokat Prince Mafu yang mewakili tiga rumah duka itu, menyatakan kliennya dimanfaatkan dengan sejumlah cara oleh perwakilan gereja. Mafu menyebut bahwa sejumlah orang yang menjadi perwakilan gereja mendekati tiga rumah duka itu secara terpisah, kemudian membeli peti mati dari satu rumah duka, memasang stiker dari rumah duka lainnya dan menyewa mobil jenazah dari rumah duka berbeda.

“Sangat disesalkan bahwa hasil dari plot semacam itu telah secara merugikan mempengaruhi reputasi kami sebagai penyedia layanan,” ucap Mafu mewakili tiga rumah duka itu. “Kami telah melaporkan persoalan ini ke kantor polisi Jeppe untuk penyelidikan lebih lanjut,” imbuhnya.

Komisi CRL atau Komisi untuk Promosi dan Perlindungan Hak-hak Komunitas Budaya, Agama dan Linguistik, sebelumnya menyebut ‘aksi itu direkayasa untuk berusaha mendapatkan uang dari orang-orang tak berdaya’. Komisi CRL telah menyatakan akan menyelidiki insiden yang menuai kecaman publik itu.

Komisi CRL juga akan memanggil pendeta Lukau dan memaksanya menyampaikan pernyataan di bawah sumpah. Komisi CRL yang mendapat mandat langsung dari Konstitusi Afsel ini bertugas melindungi dan mempromosikan hak-hak budaya, keagamaan dan linguistik dari masyarakat yang beragam.

(nvc/ita)