Abaikan Imbauan, Warga Muslim Sri Lanka Tetap Salat Jumat di Masjid

Colombo – Meski ada imbauan untuk menghindari masjid usai rentetan bom, warga muslim di Sri Lanka tetap datang untuk menunaikan ibadah Salat Jumat. Mereka pun salat di tengah pengawalan ketat personel militer Sri Lanka yang bersenjata lengkap.

Pengamanan di Sri Lanka diperketat setelah rentetan bom mengguncang tiga gereja dan empat hotel serta sebuah rumah di pinggiran Colombo saat perayaan Paskah pada Minggu (21/4) lalu yang sejauh ini menewaskan 253 orang.

Serangan bom itu mengguncang seluruh Sri Lanka yang selama satu dekade terakhir menikmati kedamaian usai konflik dengan separatis Tamil diakhiri. Nyaris 10 ribu tentara Sri Lanka dikerahkan ke seluruh wilayah untuk membantu operasi penggeledahan dan menjaga keamanan titik-titik strategis, terutama tempat-tempat ibadah.


Komunitas muslim di Sri Lanka yang merupakan minoritas, mengkhawatirkan adanya serangan balasan atas rentetan bom yang telah diklaim oleh Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) itu. Tidak sedikit yang takut keluar rumah, namun ada juga yang mengungsi dari rumah masing-masing.

Namun, seperti dilansir Reuters, Jumat (26/4/2019), para jemaah Masjid Kollupitiya Jumma di Colombo tetap datang untuk menunaikan salat Jumat berjamaah. Ratusan jemaah mengabaikan imbauan pemerintah juga pemimpin komunitas muslim yang meminta mereka sembahyang di rumah.

Warga Muslim di Sri Lanka tetap salat Jumat di masjid meski ada imbauan menghindari masjid untuk sementara waktuWarga Muslim di Sri Lanka tetap salat Jumat di masjid meski ada imbauan menghindari masjid untuk sementara waktu Foto: REUTERS/Dinuka Liyanawatte

Para jemaah yang hadir khusyuk beribadah dan berdoa agar perdamaian kembali di Sri Lanka. Sebelum masuk ke dalam masjid, para jemaah terlebih dulu harus menjalani pemeriksaan ketat, yang melibatkan anjing pelacak.

“Ini situasi sangat menyedihkan,” ucap Raees Ulhaq (28), salah satu jemaah yang berprofesi sebagai pekerja bagian sales.

“Kita bekerja bersama warga Kristen, Buddha, Hindu. Itu telah menjadi ancaman bagi kita semua karena apa yang dilakukan segelintir orang (pelaku serangan bom) ini terhadap negara yang indah ini,” imbuhnya.

Diketahui bahwa Sri Lanka yang memiliki populasi total 22 juta jiwa ini didominasi oleh penganut Buddha dan juga terdiri atas minoritas Kristen, Muslim dan Hindu. Selama ini, warga Muslim dan Kristen di Sri Lanka hidup berdampingan dalam damai, tak terpengaruh ketegangan antaragama yang terjadi di belahan dunia lainnya.

Kebanyakan warga Sri Lanka berharap agar rentetan bom yang mengguncang tiga gereja pada Minggu (21/4) lalu, tidak lagi memicu pertikaian lama.

“Tidak semua warga muslim adalah teroris,” ucap Abdul Waheed Mohamed (43) yang berprofesi sebagai teknisi, usai menunaikan ibadah salat Jumat. “Setiap hari sejak pembantaian ini terjadi, saya, keluarga saya dan semuanya, kita semua berdoa pada Tuhan, tolong beri kami perdamaian,” imbuhnya.

Warga harus melewati pemeriksaan keamanan sebelum masuk ke masjid Warga harus melewati pemeriksaan keamanan sebelum masuk ke masjid Foto: REUTERS/Dinuka Liyanawatte

(nvc/dhn)