2 Pesawat Terbang Apung Tabrakan di Alaska, 5 Orang Tewas

Anchorage – Dua pesawat terbang apung bertabrakan di udara di wilayah Alaska, Amerika Serikat (AS). Nahas, sedikitnya lima orang tewas dalam kecelakaan ini.

Seperti dilansir CNN, Selasa (14/5/2019), insiden ini dilaporkan terjadi di dekat Ketchikan, Alaska, pada Senin (13/5) siang sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

Kedua pesawat yang mengalami insiden ini sama-sama merupakan jenis pesawat terbang apung berukuran kecil, yang memiliki ponton yang membuat pesawat bisa melakukan pendaratan di atas air. Kedua pesawat diketahui sedang melakukan aktivitas terbang tamasya di kawasan pantai, sebagai bagian dari aktivitas kapal pesiar Princess Cruises.


Disebutkan pihak Princess Cruises dalam keterangan pers bahwa pesawat pertama yang dioperasikan oleh Taquan Air membawa 10 penumpang dan satu pilot. Pesawat ini baru kembali dari tur terbang tamasya di Misty Fjords, Alaska saat insiden terjadi.
Pesawat kedua yang dioperasikan oleh Royal Princess dan melakukan tur terpisah, disebut membawa empat penumpang dan satu pilot. Kelima orang di dalam pesawat kedua ini telah dikonfirmasi tewas.

Satu penumpang dari pesawat yang dioperasikan Taquan Air dilaporkan hilang dan kondisinya belum diketahui. Sembilan penumpang lainnya berhasil diselamatkan dan kini mendapat perawatan medis. Tidak disebut lebih lanjut kondisi sang pilot pesawat.

“Kami sangat sedih untuk melaporkan kabar ini dan pikiran serta doa kami tertuju bagi mereka yang kehilangan nyawa dan para keluarga yang menjadi korban insiden ini,” demikian pernyataan pihak Princess Cruises.

Dalam pernyataan terpisah, seperti dilansir Global News, Otoritas Penerbangan Federal AS atau FAA menyatakan kedua pesawat ‘bertabrakan di udara dalam situasi yang belum diketahui’. FAA menyebut tabrakan terjadi di dekat Teluk Coon Cove, Ketchikan.

Ditambahkan FAA bahwa dua pesawat yang terlibat tabrakan merupakan pesawat terbang apung jenis de Havilland DHC-2 Beaver dan de Havilland Otter DC-3. Kedua pesawat, menurut FAA, tidak terbang di bawah arahan Air Traffic Control (ATC) setempat.

Penyebab tabrakan di udara ini belum diketahui pasti. FAA menyatakan pihaknya masih menyelidiki insiden ini bersama Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB).

(nvc/ita)