2 Orang Ditangkap Terkait Bentrokan Sektarian di Sri Lanka

Colombo – Bentrokan antara dua kelompok sektarian pecah di Negombo, Sri Lanka, yang menjadi salah satu lokasi serangan bom yang menewaskan 257 orang pada 21 April lalu. Sedikitnya dua orang ditangkap terkait bentrokan ini.

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Senin (6/5/2019), juru bicara Kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekera, menyebut bahwa bentrokan diawali pertikaian personal antara dua individu di Negombo pada Minggu (5/5) waktu setempat, yang dengan cepat meluas dan memicu bentrokan lanjutan antara dua kelompok sektarian setempat.

Penyebab pertikaian itu tidak diketahui pasti. Namun pejabat tinggi kepolisian setempat yang dilansir AFP menyebut pertikaian itu terjadi antara pihak-pihak yang ada di bawah pengaruh minuman beralkohol. Selain menangkap dua orang, kepolisian setempat juga telah mengidentifikasi tersangka lain melalui rekaman CCTV.


Semua pihak yang terlibat bentrokan akan ditindak berdasarkan aturan hukum darurat yang diberlakukan sejak rentetan bom Paskah pada 21 April lalu.
Diketahui bahwa 102 orang — dari total 257 korban tewas –menjadi korban serangan bom di Gereja St Sebastian yang ada di Negombo pada 21 April lalu. Kepolisian Sri Lanka terus memburu para tersangka terkait rentetan serangan bom tersebut.

Perburuan dilakukan di tengah kekhawatiran munculnya bentrokan antaretnis yang menargetkan warga minoritas Muslim di Sri Lanka. Terlebih diketahui bahwa kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom Paskah.

Bentrokan antara dua kelompok sektarian yang pecah di Negombo, menurut sumber-sumber pemerintah setempat, melibatkan beberapa warga Katolik dan Muslim. Sebagai dampaknya, otoritas setempat memberlakukan jam malam untuk wilayah Negombo.

Tidak ada laporan korban luka serius akibat bentrokan itu. Seorang saksi mata Reuters melihat setidaknya satu toko, sebuah kantor dan tiga sepeda motor juga tiga bajaj rusak akibat bentrokan tersebut. Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, menyatakan pemerintah akan mengganti kerugian properti yang menjadi korban bentrokan.

Menyikapi bentrokan sektarian ini, Uskup Agung Kolombo, Kardinal Malcolm Ranjith bersama sejumlah pemimpin komunitas Muslim setempat mendatangi Negombo untuk meredakan ketegangan. Kardinal Ranjith juga menggelar pembicaraan dengan ulama setempat.

“Saya menyerukan kepada seluruh saudara-saudara Katolik dan Kristen untuk tidak menyakiti satu pun warga Muslim karena mereka saudara-saudara kita, karena mereka bagian dari budaya religius kita,” ucap Kardinal Ranjith dalam pesannya. “Oleh karena itu tolong hindari melukai mereka dan berusaha ciptakan semangat saling memahami dan hubungan baik antar seluruh komunitas Sri Lanka,” imbuhnya.

Kardinal Ranjith juga menyerukan pemerintah setempat untuk melarang sementara penjualan alkohol dan menutup bar setempat. “Sebagai langkah sementara, kardinal meminta pemerintah untuk melarang penjualan minuman beralkohol di area Negombo,” tutur juru bicara Kardinal Ranjith, Bapa Edmund Tilakaratne, kepada AFP. Diketahui bahwa mayoritas penghuni wilayah Negombo menganut Katolik.

Dalam seruan lainnya, Kardinal Ranjith meminta warga Kristen, Buddha, dan Muslim untuk menahan diri. Diketahui bahwa 22 juta populasi Sri Lanka didominasi oleh penganut Buddha dan terdiri atas minoritas Kristen, Muslim, dan Hindu.

(nvc/jbr)