14 Anak Militan ISIS asal Prancis-Belanda Dipulangkan dari Suriah

Paris – Belasan anak yatim-piatu yang orang tuanya para militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dipulangkan ke Prancis. Sedikitnya ada 12 anak militan yang orang tuanya berasal dari Prancis dan dua anak yang orang tuanya berasal dari Belanda yang direpatriasi dari Suriah.

Seperti dilansir Reuters, Senin (10/6/2019), pernyataan yang dituturkan sumber diplomatik Prancis mengonfirmasi pernyataan pemerintahan Kurdi di Suriah. Sumber diplomatik itu menyatakan pesawat yang membawa anak-anak militan ISIS telah mendarat di sebuah bandara militer dekat Paris pada Senin (10/6) waktu setempat.

Di lokasi itu, para pejabat Belanda menjemput anak-anak militan ISIS yang berkewarganegaraan Belanda. Sedangkan 12 anak militan ISIS yang berkewarganegaraan Prancis diserahkan kepada Dinas Sosial setempat.


Menurut sumber tersebut, anak-anak militan ISIS yang dipulangkan dari Suriah itu ‘sangat rentan’. Sekitar 250 anak-anak lainnya diyakini masih ditahan di sejumlah lokasi di Suriah. Sebelum ini, pemerintah Prancis baru memulangkan lima anak militan ISIS dari Suriah.

Dalam pernyataan terpisah, ketua komisi hubungan internasional pada otoritas Kurdi di Suriah, Abdulkarim Omar, menyatakan pihaknya telah menyerahkan anak-anak militan ISIS kepada delegasi Kementerian Luar Negeri Prancis dan Belanda. Disebutkan Omar bahwa Prancis menerima 12 anak militan ISIS dan Belanda menerima dua anak militan ISIS. Seluruh anak-anak militan ISIS itu berstatus yatim-piatu.

Diketahui bahwa otoritas Kurdi di Suriah mendorong negara-negara Barat untuk menerima kembali warganya yang pernah bergabung dengan ISIS, beserta para keluarganya, setelah Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung koalisi Amerika Serikat (AS) merebut markas terakhir ISIS tahun ini.

Pekan lalu, otoritas Kurdi di Suriah menyatakan mereka memulangkan dua wanita AS bersama enam anaknya. Namun hanya ada sedikit negara yang bersedia menerima kembali warganya yang pernah bergabung ISIS. Isu ini memicu perdebatan sengit di berbagai negara, dengan simpati publik minim untuk keluarga militan ISIS.

Di Prancis sendiri, isu ini cukup gawat dengan Presiden Emmanuel Macron berada di bawah tekanan setelah sejumlah pria Prancis baru-baru ini divonis mati di Irak karena bergabung ISIS. Diketahui bahwa Prancis menentang hukuman mati. Namun pemerintah Prancis menolak untuk menerima kembali militan ISIS dan istri mereka. Prancis meyakini bahwa mereka harus menghadapi peradilan di Suriah atau Irak.

Otoritas Kurdi di Suriah dan SDF telah menyatakan pihaknya tidak bisa menampung ribuan warga asing tanpa batas waktu. Namun tidak ada kebijakan internasional yang jelas soal cara menangani isu ini.

(nvc/hri)